Susahnya Mencari Lagu Anak-Anak (Selamat Jalan Pak AT Mahmud)

Aku adalah anak gembala

Selalu riang serta gembira
Karena aku senang bekerja
Tak pernah malas ataupun lengah
La la la la la la la

Masih ingat bagaimana gaya Tasya menyanyikan lagu ”Anak Gembala” 10 tahun lalu di TV? Penampilan Tasya yang lucu dan menggemaskan membuat salah satu lagu anak sepanjang masa karya AT Mahmud tersebut populer saat itu.

Selain ”Anak Gembala”, Tasya juga membuat anak-anak pada masa itu menyukai lagu ”Libur Telah Tiba”. Tasya, yang pada saat itu berusia 7 tahun, memang tengah memopulerkan lagu-lagu karya AT Mahmud melalui album Libur Telah Tiba (2000).

Lima tahun kemudian, Tasya kembali memopulerkan lagu-lagu anak zaman dulu yang digabungkan dengan lagu baru seperti ”Jangan Takut Akan Gelap” karya Eros (Sheila on 7) dalam album The Very Best of Tasya.

Bernyanyi adalah salah satu kegiatan yang paling digemari oleh anak-anak. Kata-kata yang mengalun diringi oleh iringan musik mampu memberikan semangat tersendiri bagi mereka. Bahkan tidak jarang sang guru mengajarkan atau menghafal sesuatu dengan bernyanyi. Dengan lirik yang sedemikian rupa adanya, mampu membantu daya ingat dan cara bicara anak.

Ketika kita membuka kembali memori masa lalu, saat masih terbalut seragam Taman Kanak-kanak (TK) akan ada gambar kebahagiaan disana. Semua orang saat itu pasti memiliki kenangan indah tersendiri. Dalam jenjang pendidikan anak usia dini itu, ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Setiap anak akan diajarkan mengenai agama, budi bahasa, berhitung, membaca, bersosialisasi dengan dalam lingkungan keluarga dan teman-teman sepermainannya, keterampilan, dan bernyanyi. Semua dirancang sebagai upaya menumbuhkembangkan daya pikir dan peranan anak kecil dalam kehidupannya. Semua kegiatan belajar ini dikemas dalam model belajar sambil bermain.

Sebelum era Tasya, di paruh kedua era 1970 & 1980-an Chicha Koeswoyo dengan lucu menaynyikan ”Helly,” yang bertutur tentang anjing kecil kesayangannya. Chicha dan Helly-nya menjadi loko penarik lagu-lagi anak-anak dari Joan Tanamal, Adi Bing Slamet Ira Maya Sopha, &Janter Simorangkir & masih banyak lagi.

Kemudian di era 1990-an Enno Lerian populer lewat salah satunya lagu ”Nyamuk Nakal”, Melisa dengan ”Semut-semut Kecil”, dan Trio Kwek Kwek ”Jangan Marah”.  Lalu muncul Sherina yang tak hanya menyanyi, tetapi juga terkenal melalui film Petualangan Sherina. Penyanyi seperti Chikita Meydi, Eno Lerian, Leoni, Dea Ananda, dan banyak lagi yang kesemuanya memberi ikon masa kanak-kanak yang khas lewat lagunya tentang persahabatan, pendidikan, kasih sayang ibu, sebuah harapan dan cita-cita layaknya syair lagu Joshua yang berangan menjadi seorang Habibie,  Kak Ria Enes dan Suzan yang bercerita tentang cita-cita menjadi dokter, insinyur hingga presiden, Fadly yang bercerita tentang kerasnya perjuangan hidup anak jalanan untuk sekolah atau banyak hal tentang semangat militansi dunia anak.  Kini, ke mana tema-tema lagu anak tersebut? Kasihan, jangan-jangan anak-anak telah kehilangan dunianya.

Pada saat kecil mungkin dari kita pernah ingat betapa menyenangkannya menirukan  sebuah lagu anak anak yang didengarkan oleh orangtua kita. Bahkan tidak luput juga menirukan gaya penyanyinya. Berjoget, menari, dan menyanyikannya dengan penuh gaya seakan di atas panggung.

Berbicara tentang lagu anak-anak, kita tidak bisa melupakan nama-nama, seperti almarhum Pak Dal, Pak Kasur, dan Ibu Kasur. Mereka umumnya guru yang sering berkumpul dengan anak-anak. Hal ini mendorong mereka menciptakan lagu yang sesuai perkembangan psikologi anak. Maka, lahir lagu anak-anak untuk permainan, atau yang berbicara tentang alam, atau mengungkap kasih orangtua.

Selamat jalan Pak AT Mahmud, semoga lagu-lagu yang beliau ciptakan dan membuat hati anak-anak merasa gembira menjadi amal yang tidak berkeputusan bagi beliau.

Meninggalnya AT Mahmud pada hari Selasa kemarin (06/07/2010) merupakan kehilangan besar bagi dunia seni musik, utamanya musik anak-anak. Betapa tidak, AT Mahmud dalam usianya yang sudah sepuh itu masih rajin memerhatikan perkembangan lagu anak-anak. Ia mengaku prihatin ketika menyaksikan anak-anak di televisi menyanyikan lagu-lagu orang dewasa.

Di masa hidupnya, penerima Piagam hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini memang telah menciptakan sekitar 500 judul lagu anak-anak. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Amelia, Cicak, Pelangi, Bintang Kejora, dan Ambilkan Bulan, sangat terkenal dan baik untuk anak-anak. Semua lagu ciptaannya mengandung unsur pendidikan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian anak-anak Indonesia.

Pada saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa lagu anak anak sekarang sudah tidak sepopuler lagu lagu pop di tanah air. Sehingga tidak jarang pada saat ini banyak anak anak yang lebih condong menyanyikan lagu pop dari pada lagu anak.  Walaupun sebenarnya lagu anak lebih sesuai untuk dinyanyikan dalam tahap perkembangan anak.

Bernyanyi, jika dilihat secara sekilas terlihat suatu kegiatan olah vocal biasa bagi anak. Tetapi dengan bernyanyi, akan memberikan banyak manfaat positif bagi anak. Berikut adalah beberapa manfaat yang bisa diambil dari anak bernyanyi:

  1. Melatih motorik kasar. Dengan melakukan kegiatan bernyanyi anak dapat juga melakukannya dengan menari, bergaya, bejoget dan lain-lain. Dan hal ini bisa meningkatkan dan melatih gerakan motorik anak.
  2. Membentuk rasa percaya diri anak. Bernyanyi merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Sehingga dengan meniru dan ikut bernyanyi dapat memberikan rasa percaya diri bahwa ia pandai untuk bernyanyi. Jangan lupa untuk memberikan pujian bagi anak.
  3. Menemukan bakat anak. Bernyanyi bisa menjadi kegiatan yang sering dilakukan oleh anak. Ia sangat suka dan pandai sekali bernyanyi dengan diiringin musik, dengan gaya bernyanyinya yang khas dapat memberikan ia pemyaluran yang tepat dengan mengikuti lomba anak bernyanyi.
  4. Melatih kognitif dan perkembangan bahasa anak. Bernyanyi tentu saja tidak bisa lepas dari kata dan kalimat yang harus diucapkan. Dengan bernyanyi dapat melatih peningkatan kosa kata dan juga ingatan memory otak anak.

Dari sekian penjelasan diatas tentu kini kita telah tahu beberapa manfaat dari kegiatan bernyanyi. Dibandingkan dengan lagu pop, lagu anak anak akan lebih tepat dinyanyikan oleh anak kita. Karena pada tahap perkembangannya, anak masih dalam tahap perkembangan praoperasional, dimana anak masih dalam proses pengenalan akan dunia.
Apa yang dilakukan oleh anak-anak adalah pembelajaran secara langsung maupun tidak langsung dari lingkungan sekitarnya. Apa yg dilihatnya dan menjadi apa yang dilakukan, itulah hasilnya. Syukur bila hasilnya positip, tetapi jika tidak ? Siapa yang salah ?.

Akan sangat menyesal bagi para orang tua jika hasil pembelajaran anak2 dari lingkungannya berbuah negatip, dan melekat menjadi karakter yang dibawa sampai nanti. Dalam beberapa kesempatan, seringkali saya katakan bahwa ‘ pengkarbitan ‘ anak-anak dalam segala hal termasuk melalui event Seni, baik Lagu, Sinetron dsb-nya bisa menjadi petaka bagi masa depan anak2. Sebenarnya apa yang dibanggakan dengan kemenangan anak-anak dalam suatu event yang berada diwilayah orang dewasa ?
Melihat perkembangan lagu anak-anak sekarang ini, beliau sangat prihatin. Menurutnya, banyak sekali lagu yang dinyanyikan anak-anak bukan lagu anak melainkan lagu orang dewasa dengan pikiran dan kemauan orang dewasa. Anak-anak hanya menyanyikan saja. Tanpa pemahaman dan penghayatan akan isi lagu. Menurut beliau, lagu anak-anak hendaknya mengungkapkan kegembiraan, kasih sayang, dan memiliki nilai pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak. Bahasa dalam lagu anak pun harus menggunakan kosakata yang akrab di telinga anak. Semoga dengan tulisan ini kita menjadi lebih peduli dengan perkembangan anak-anak kita. Labih perduli untuk membuat lagu-lagu yang bermutu untuk dunia mereka. Jangan biarkan lagi anak-anak mendengar lagu-lagu yang bukan konsumsinya.

Komentar (2) »

Pengaruh Musik Pada Kehamilan

Musik diciptakan untuk memengaruhi kondisi psikologis manusia. Dan, manusia adalah makhluk yang kompleks. Setiap musik memiliki elemen dasar, yaitu pitch (frekuensi suara), tempo, timbre (warna suara) dan dinamika. Denyut jantung ibu merupakan stimulus musik pertama yang didengar oleh janin. Karena itu, musik yang diperdengarkan untuk tujuan tertentu harus dibuat berdasarkan kebutuhan per individu.

Umumnya, kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, endokrin serta sistem kardiovaskuler ibu dan janin. Kehamilan tidak hanya menyebabkan perubahan pada pelvis dan abdomen ibu hamil tetapi juga seluruh bagian tubuh.

Bagi janin, keseimbangan hormonal dan metabolisme akan mempengaruhi pertumbuhan sel-sel. Sel-sel ini sebaiknya di stimulasi sejak dini agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Kecerdasan manusia tidak hanya ditentukan semata-mata oleh jumlah sel otak yang dimiliki, tetapi lebih ditentukan oleh seberapa banyak koneksi (synaps) yang bisa terjadi antar sel-sel otak. Setiap sel-sel otak dapat memiliki kemungkinan 1 hingga 20.000 sinaps. Koneksi antar sel otak ini akan terjadi bila otak sering diberi stimulus.

Ada tiga jenis stimuli yang akan meningkatkan kecerdasan janin. Stimuli tersebut adalah stimuli fisik-motorik, misalnya, ibu mengelus-elus perut, atau memberikan respon apabila ada gerakan-gerakan yang dilakukan sang janin; stimuli kognitif, misalnya, ibu hamil berkomunikasi dengan bayinya dengan cara berbicara atau mendongeng pada sang janin; stimuli efektif, misalnya, menyentuh perasaan bayi dengan memperdengarkan jenis musik tertentu. Jika hal ini dilakukan dengan sering dan teratur, maka hasilnya akan lebih baik lagi.

Pentingnya stimulus, khususnya musik, akan menyeimbangkan IQ dan EQ sang janin, bahkan berpengaruh besar pada kehidupannya kelak. Keseimbangan ini terlihat pada fungsi otak kanan dan otak kiri manusia. Otak kiri berkaitan dengan kemampuan berbicara, mengingat dengan tata bahasa, berfikir secara sistematis, mengendalikan emosi, memandang hidup dengan serius, bekerja dengan fakta, kemampuan menganalisa, berfikir logis, tugas-tugas praktis, kegiatan terpola, daya ingat (nama, waktu, peristiwa) dan organisasi.


Sementara otak kanan berhubungan dengan, perkembangan artistik/kreatif, perasaan, menyatakan emosi, irama musik, memandang hidup dengan santai, membuat sintesa, imajinasi, lamunan, berfikir secara global dan intuitif, tugas-tugas abstrak, improvisasi, kegiatan terbuka, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi dan pengembangan kepribadian.


Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan pengaruh musik pada kehamilan, antara lain:

  1. Tahun 1962, Dr.Lee Salk memperlihatkan bahwa janin sadar akan detak jantung ibunya.
  2. Tahun 1991, Janet Caine dari Florida melaporkan penelitian terhadap 52 bayi prematur dan bayi baru lahir yang bobot lahirnya rendah tentang efek musik vokal selama 60 menit, termasuk nina bobo dan lagu anak-anak, telah mengurangi masa tinggal di rumah sakit rata-rata 5 hari. Tingkat kehilangan bobot pada kelompok bai yang mendengarkan musik rata-rata 50% lebih rendah, asupan susu formula pun berkurang, dan tingkat stresnya menurun.
  3. Tahun 1992, Shahidullah dan Hepper melakukan penelitian dengan memperdengarkan nada murni 250-500Hz pada 400 janin yang berusia 16 minggu dalam kandungan. Hasilnya menunjukkan signifikansi kemampuan mendengar bayi ternyata 8 minggu lebih cepat daripada perkembangan sempurna indra pendengaran pada minggu ke-24.
  4. Tahun 1993, Majalah Science melaporkan penelitian baru yang menggambarkan kegiatan listrik di otak-otak bayi dengan kemampuan mereka untuk mengenali suku kata sederhana yang telah diajarkan ibu mereka sejak dalam kandungan.
  5. Tahun 1996, Journal American Medical Association melaporkan tentang hasil studi terapi musik di Texas yang menemukan bahwa rangsangan musik meningkatkan pelepasan endorfin selama proses kelahiran sehingga menurunkan pemakaian obat-obatan anestesi.

Terdapat beberapa penjelasan tentang pengaruh musik terhadap ibu hamil selama kehamilan. Bunyi-bunyi frekuensi tinggi (3000Hz atau lebih) akan mempengaruhi fungsi-fungsi kognitif seperti berpikir, persepsi spasial, dan ingatan. Bunyi-bunyi Frekuensi sedang (750-3000Hz) cenderung merangsang jantung, paru-paru, dan emosi. Bunyi-bunyi rendah (125-750Hz) akan mempengaruhi gerakan fisik.

Saat mendengarkan musik, otak memproses apa yang didengar, detak jantung cenderung mengikuti atau sinkron dengan kecepatan musik yang satuannya bit permenit. Hal ini menjelaskan mengapa saat mendengarkan musik dengan tempo yang tinggi detak jantung meningkat. Saat mendengar musik dengan tempo (bit per menit) yang rendah, misal 55-70 bpm, detak jantung akan melambat dan tubuh akan menjadi relaks.

Endorfin, yang merupakan zat candu alamiah di otak, akan dilepaskan saat tubuh merasa rileks. Hormon-hormon stres, yang meliputi adreronocorticotrophic (ACTH), prolaktin, dan hormon pertumbuhan (GH), dalam darah akan selaras kadarnya saat mendengarkan musik.

Keadaan relaks ini akan memperlancar sirkulasi darah ibu dan janin melalui plasenta. Denyut jantung janin akan mengikuti sinkronasi dengan denyut jantung ibu sebagai sumber musik pertama yang janin dengar dalam kandungan. Keseimbangan ini harus dijaga dari stress, baik fisik maupun psikis, agar janin tidak mengalami gangguan pertumbuhan selama dalam uterus dan penyulit bagi ibu hamil selama kehamilan hingga persalinan bagi ibu.

——————————-

Pustaka:

1. B, Pribakti., dr.,Sp.OG(K), 2007. Cerdaskan Janin Dengan Musik.
http://www.indomedia.com/bpost/072007/23/ragam/art-1.htm (23 Juli 2007).

2. Campbell, Don.,Ph.D. 2001. Efek Mozart: Memanfaatkan Kekuatan Musik untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas dan Menyehatkan Tubuh. Jakarta: Gramedia Pustaka Tama.

3. Cecilia, Siagian Priska. 2008. Janin Tumbuh Cerdas Lewat Musik. http://www.jurnalnasional.com (30 Maret 2008).

4. Chamberlain., David B.,MD. 2008. The Fetal Sense: A Classical View. http://www.birthpsychology.com/lifebefore/index.html (19 Februari2008)

5. Cunningham, Gary.,F, MD, et al. 2007. Williams Obtetrics 22nd. USA: The Mc GrawHill Companies.

6. Gilang. 2004, Rajin Dengar Musik, anak Cerdas Berkualitas. http://www.pdpersi.or.id (14 agustus 2000)

7.Gunawan, Adi, W. 2003. Genius Learning Strategy. Jakarta: Gramedia Pustaka Tama

8. Guyton, Arthur. C,. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

9. Hermanto.dr.,Sp.OG(K), 2007. Temuan Baru di Bidang Pelayanan Kebidanan. http://www.pogisurabaya.org (10 Agustus 2007).

10. Mochtar, Rustam, Prof., Dr., MPH. 2002. Sinopsis Obstetri 1. Jakarta: EGC

11. Nn., 2008, Fetal Development 2nd Trimester. http://www.pregnancy.org (19 Februari 2008).

12. Suririnah, dr., 2005. Pengaruh Musik Bagi Bayi Dalam Kandungan Anda. http://www.infoibu.com (19 Februari 2008).

Komentar bertahan »

Jejaring Sosial Khusus Kedokteran (bag.1)

A. Manusia sebagai Mahluk Sosial

“..Jika kita memiliki kesamaan persepsi dan pandangan maka dengan sendirinya kita akan berkumpul bersama..”

Fenomena Social Media (Media Sosial Maya), khusunya Jejaring Sosial (JerSos) atau Social Networking, saat ini sudah seperti jamur di musim hujan. Misalkan ada dua orang yang kebetulan memakai dasi hijau sedang bertemu mungkin segera mereka akan membentuk grup ‘id-DasiHijau’ di FB atau Twitter nya.

Sebuah penelitian statistik tentang mengapa perlu memberikan perhatian tentang trend media sosial virtual oleh McCann menunjukkan bahwa di tahun 2008 sudah terdapat

  • 184 Juta bloggers
  • 73% online users yang aktif membaca blog
  • 45% memulai menulis di blog
  • 57% bergabung dengan Jejaring Sosial
  • 55% mengupload foto di Social Media
  • 83% menonton video klip
  • 39% berlangganan RSS feed

Data yang mencengangkan juga muncul di tahun 2010 bahwa banyak Rumah Sakit yang menggunakan media sosial maya sebagai alat komunikasi dimana meliputi

  • 557 Pusat Sistem Pelayanan Kesehatan/RS/Klinik/ *
  • 254 Kanal YouTube  *
  • 336 Halaman Facebook
  • 430 Akun Twitter *
  • 70 Blogs

Banyak juga sejawat yang memanfaatkan salah satu JerSos yaitu FB untuk berkomunikasi antar komunitas lewat grup, baik grup yg sifatnya internal kolega hinggaeksternal  antar almamater. Beberapa grup internal kolega FB diantaranya yang saya ikuti:

1. Civitas Akademika FKUNS : Media komunikasi & silaturahmi antar alumni FKUNS seluruh angkatan.

2. Silaturahmi Angkatan 2003 : Menyambung kabar antar teman seangkatan 2003

3. Suara Coass Moewardi : Menghubungkan antar Koas yg jarang bisa bertemu bersama untuk berbagi informasi & trik melalui tiap stase dari awal masuk hingga ujian akhir stase.

Sedangkan grup kedokteran eksternal terhitung cukup banyak baik dari dalam negeri maupun luar negeri, diantaranya:

1.  GASTER (Gak Sengaja jadi Dokter): Grup pengembangan diri yg terdiri dari beberapa mahasiswa kedokteran, koas, dokter hingga spesialis yang memiliki satu kesamaan yaitu ‘Nggak nyangka akhirnya bisa jadi dokter juga..”, Grup ini bertujuan untuk saling support antar sejawat agar saling memberikan nasihat terbaik untuk menjadi dokter lewat kesamaan obsesi yang dulu pernah ingin diraih. (Sifat Grup: Tertutup)

2.  Ringer Laktat Untuk rekan Sejawat : Grup buatan saya sendiri tentang kisah-kisah dokter PTT (sudah mengalami beberapa editing sebelumnya agar aman dipublikasikan) yang diminati oleh lebih dari 500 anggota dari kalangan medis. (SifatGrup: Tertutup)

3. SEMINAR MEDIS untuk DOKTER (SMuD): Grup yang berisi tentang agenda-agenda seminar tentang kedokteran di seluuh Indonesia. sangat bermanfaat terutama informasi tentang jadwal ATLS, ACLS, dll.

B. Alternatif JerSos untuk Dokter

Mengamati data diatas sekaligus juga sejawat & calon rekan sejawat yang aktif di Jejaring Sosial seperti FB, Twitter, & Blog sebenarnya bisa disikapi positif tapi juga harus diingatkan akan efek negative dari media maya ini. Beberapa kasus pun di Luar negeri muncul terkait dengan pemanfaatan yang kurang perhitungan, berikut diantaranya:

  1. 13% Rahasia Pasien Bocor di Facebook.  (inilah.com)
  2. Umbar Foto Pasien di Facebook, Perawat Dipecat. (detik.com)
  3. Main Game Saat Jaga, Dokter-Perawat Diskors (detik.com)
  4. Heboh hasil rontgen kepala berpaku muncul di Facebook… (inilah.com)
  5. Video Operasi Bocor di Internet, Karir Jadi Taruhan (detik.net)
  6. Posting di Facebook Undang Kecaman.. Perawat Rumah Sakit Pesta Lempar Makanan Dekat ICU..
  7. ..dan masih banyak lagi..

Tingkatan tertinggi kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow adalah “Aktualisasi Diri”, ini pula alasan mengapa banyak dokter yang tergabung dalam JerSos. Sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan, dokter juga perlu berinteraksi dengan sejawat yang lain. Tapi semua ada batasnya, melihat kasus diatas seharusnya kita lebih waspada untuk munculnya jebakan jeratan hukum bagi tenaga medis. Perlu suatu komunitas khusus dimana aman untuk bersosialisasi sekaligu beraktualisasi diri dengan berkarya sesuai ranah masing-masing.

Fenomena ini sudah terbaca oleh beberapa pihak sebagai sebuah peluang membentuk sebuah komunitas Jejaring sosial yang aman bagi kalangan medis Amerika serikat, beberapa diantaranya muncul dengan berbagai fitur yang sangat berguna bagi para dokter. Beberapa situs JerSos buatan luar negeri ini menginspirasi saya untuk membuat JerSos sendiri berbasis kedokteran:

1. WebMD :  Komunitas dokter yang berdiri cukup lama dimana bertujuan sebagai media komunikasi antara Dokter dan pasien agar timbul rasa saling percaya dan menghilangkan stigma-stigma tentang malpraktek yang tidak benar.

2.  Sermo:  Dengan lebih dari 112.000 anggota masyarakat, Sermo merevolusi cara dokter bekerja sama di seluruh Amerika Serikat. Sermo adalah komunitas dokter online terbesar di Amerika Serikat meliputi tempat praktek dokter-AS yang mencakup 68 spesialis dan seluruh 50 negara-berkolaborasi pada kasus-kasus sulit dan pengamatan pertukaran tentang obat-obatan, peralatan dan masalah klinis.

3. Doctors Hangout : Pada situs ini Anda dapat

  • Berhubungan dengan pribadi atau profesional baru seprofesi dokter dari seluruh dunia,
  • mencari dokter yang memiliki hobi, minat dan pikiran.
  • Tetap berhubungan dengan teman-teman Anda, teman-teman dan kolega.
  • Mendiskusikan, tantangan, menguatkan dan berbagi kasus klinis yang menarik dengan dokter dari seluruh dunia
  • Upload foto, video dari kasus klinis yang menarik dalam praktek Anda dan mendapatkan tanggapan langsung dari masyarakat dokter.
  • Mengirimkan pesan pribadi dengan dokter dari sisi lain dunia.
  • Mencari sebuah pekerjaan di dunia medis.
  • Berbagi ide riset dan mendapatkan anggota tim baru untuk proyek penelitian Anda.
  • Pertukaran informasi konferensi medis dan artikel jurnal dengan dokter dari sisi lain dunia.
  • Mulai dan mengelola grup Anda sendiri untuk latihan, sekolah kedokteran atau daerah penelitian.
  • Berbagi pemikiran, pengetahuan medis, pengalaman pribadi dan klinis oleh mulai blog Anda sendiri.
  • dan masih banyak lagi…

4.  Medicalera: Situs yang didirikan oleh dokter dari Asia ini lebih dari sekedar sebuah portal kesehatan, ini adalah situs jaringan sosial kesehatan yangmemiliki beberapa fitur antara lain:

  • Anda dapat mengatur grup kesehatan Anda sendiri untuk fokus pada topik-topik tertentu Anda ingin tahu lebih banyak tentang melalui kelompok.
  • Anda dapat berbagi pengalaman Anda dengan orang lain tentang masalah-masalah kesehatan tertentu melalui blog atau diskusi.
  • Anda dapat mencari nasehat dari orang lain tentang masalah-masalah kesehatan tertentu.
  • Anda dapat mengetahui lebih lanjut tentang individu-individu tertentu dengan menjadi ‘teman’ dan mendiskusikan masalah kesehatan tertentu offline atau online.
  • Anda dapat akses ke berita terbaru feed dari Medical News Today dan New England Jurnal Kedokteran.
  • Anda dapat akses ke ribuan direktori medis Indonesia seperti rumah sakit, dokter dan apotiks.

5. Hello Health: Jersos ini secara signifikan meningkatkan pengalaman bagi penyedia dan pasien dengan mengurangi kertas kerja (Paperless), menyederhanakan proses dan memanfaatkan media online terbaru dan aplikasi komunikasi bergerak untuk memungkinkan dokter dan pasien untuk terlibat secara efisien dan nyaman.

6. Ozmosis : Dengan memanfaatkan kekuatan jaringan terpercaya, Ozmosis memberikan pribadi dan informasi medis yang relevan dengan setiap anggota, akhirnya menghemat waktu dan meningkatkan perawatan pasien.Pada Ozmosis, dokter mengajukan pertanyaan dan menemukan jawaban dalam jaringan rekan terpercaya. Dokter dapat membuat penunjuk, tag dan kritis menilai konten yang relevan, memicu diskusi dan berbagi wawasan profesional.

Sebenarnya masih banyak lagi, tetapi beberapa JerSos diatas sudah cukup mewakili kebutuhan tenaga medis untuk bersosialisasi sekaligus berkarya dibidangnya untuk pelayanan yang lebih baik kepada pasien.

(bersambung)

Komentar (13) »

Menghapus Stigma Penyakit ‘Edan’: Mengenal Schizophrenia

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S: Al-Baqarah 2: 155)


Sering sekali kita mendengar & melihat betapa ‘sadis’nya tanggapan masyarakat apabila ada salah satu warganya ‘sakit gila’, ‘edan’, ‘kurang waras’, dan sebagainya. Tanggapan masyarakat pun bermacam-macam terhadap penderita & keluarganya mulai dari dugaan penyakit kutukan, santet (guna-guna), keturunan, dimasuki mahluk halus, dan juga lain sebagainya. Stigma macam inilah yang justru membuat penderita akan sulit sembuh dari penyakitnya dan keluar masuk RSJ karena kurangnya faktor lingkungan yang mendukung.

Tak jarang penderita yang mengalami gangguan kejiwaan sering keluar masuk rumah sakit karena mengalami kekambuhan. Faktor yang memicu sebagai pencetus kekambuhan bermacam-macam mulai dari faktor lingkungan, keluarga, timbulnya penyakit fisik yang diderita, maupun faktor dari dalam individu sendiri tersebut. Keluarga dan lingkungan memiliki andil besar dalam mencegah kekambuhan penderita gangguan kejiwaan. Oleh karena itu, pemahaman keluarga dan lingkungannya mengenai kondisi penderita serta kesediaan keluarga dan lingkungan menerima penderita apa adanya dan memperlakukan penderita secara manusiawi merupakan salah satu bentuk pengobatan yang dapat mencegah kekambuhan penderita.

Kebetulan saat postingan ini ditulis adalah minggu ke-4 Saya di Stase Psikiatri dan minggu ke-2 bertugas di Rumah Sakit Jiwa, sedikit saya coba berbagi kepada rekan-rekan tentang apa itu penyakit jiwa, khususnya Skizofren (Schizophrenia).

Psikiatri (Psychiatry) atau yang lazim kita kenal sebagai Ilmu Kesehatan Jiwa, menggolongkan berbagai macam penyakit jiwa dalam sebuah buku panduan yang diakui internasional yang disebut DSM-IV (Diagnostic & Statistical Manual) yang dalam ‘versi’ Indonesia menjadi PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnostic Gangguan Jiwa). Penggolongan penyakit jiwa dalam PPDGJ III meliputi:

  • F 0. Gangguan Mental Organik, termasuk Gangguan Mental Simtomatik
  • Fl Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol dan Zat Psikoaktif Lainnya

  • F2 Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham

  • F3 Gangguan Suasana Perasaan (Mood & Afektif)

  • F4 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait Stres

  • F5 Sindrom Perilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan Faktor Fisik

  • F6 Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa

  • F7 Retardasi Mental

  • F8 Gangguan Perkembangan Psikologis

  • F9 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Pada Masa Kanak dan Remaja.

Wah ternyata banyak juga ya penyakit yang sering masyarakat awam sebut penyakit ‘gila’?

Dari sekian banyak  item penggolongan diatas, diagnosa juga tidak sembarangan. Diagnosa dalam kelainan jiwa ini bersifat multi-aksial yang terdiri dari 5 aksis, terdiri dari:

  • Aksis I: Gangguan Klinis (F00-09, F10-29, F20-29, F30-39, F40-48, F50-59, F62-68, F80-89, F90-98, F99)
  • Aksis II: Gangguan Kepribadian (F60-61, gambaran kepribadian maladaptive, mekanisme defensi maladaptif), Retardasi Mental (F70-79)
  • Aksis III: Kondisi Medik Umum
  • Aksis IV: Masalah Psikososial dan Lingkungan (keluarga, lingkungan social, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses pelayanan kesehatan, hukum, psikososial)
  • Aksis V: Penilaian Fungsi Secara Global (Global Assesment of Functioning = GAF Scale)

Setelah sedikit mengetahui macam penggolongan diatas, mari kita mengenal salah satu penyakit jiwa yang sering ditemui di masyarakat yaitu Schizophrenia.

* Apakah Skizofrenia itu?

Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).

Dalam sejarahnya oleh Emil Kraepelin pada awal tahun 1900, gangguan ini diistilahkan sebagai dementia praecox, yaitu suatu kondisi menyerupai demensia dengan gangguan yang menonjol pada kognisi yang terjadi sebelum waktunya karena banyak mengenai orang-orang usia muda.

Pada tahun 1911, oleh Eugene Bleuler, istilah tersebut kemudian digantikan dengan “skizofrenia” yang ditandai dengan empat gejala A yang menonjol (Asosiasi yang abnormal, gangguan Afek, Autisme, dan Ambivalensi).

Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.

Hingga saat ini terdapat 5 (lima) subtipe skizofrenia menurut klasifikasinya, pembagian kelompok klasifikasi ini didasarkan atas gejala yang dominan secara klinis. Lima subtipe tersebut adalah skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, skizofrenia katatonik, skizofrenia tak terinci, skizofrenia residual.

* Kriteria diagnostik

Berdasarkan atas kriteria diagnostik yang tercantum dalam DSM IV-TR, maka seseorang dikatakan menderita skizofrenia bila mengalami dua atau lebih gejala berikut yang telah berlangsung selama sekurangnya satu bulan lamanya :

  1. Waham/delusi : gangguan isi pikir berupa suatu keyakinan yang salah, tidak sesuai realita, tidak dapat dikoreksi, dan tidak sesuai dengan latar belakang sosial dan budaya dari pasien.
  2. Halusinasi : gangguan persepsi di mana respon muncul tanpa adanya sumber stimulus dari lima panca indera. Halusinasi dapat berupa halusinasi pendengaran, halusinasi penglihatan, halusinasi pengecapan, halusinasi perabaan, halusinasi penghiduan.
  3. Pembicaraan kacau : merupakan gangguan pada proses pikir, derajatnya bervariasi dari gangguan ringan seperti derailment hingga kondisi berat berupa inkoherensia di mana kata-kata pasien tidak dapat dimengerti lagi sepenuhnya.
  4. Perilaku kacau atau perilaku katatonik
  5. Gejala negatif seperti afek yang terganggu, ketiadaan pembicaraan, ketiadaan gerakan, sikap menarik diri berlebihan, dll.

Lebih sederhananya gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:

  1. Gejala-gejala Positif
    Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
  2. Gejala-gejala Negatif
    Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).

Saat ini dikenal lima subtipe skizofrenia yang dibagi dalam kelas-kelas yang berbeda berdasarkan gejala klinis yang menonjol. Kelima subtipe tersebut adalah:

1. Skizofrenia Paranoid

Gejala dominan berupa waham atau delusi dan halusinasi pendengaran. Waham biasanya berjenis waham kejar (misalnya yakin bahwa orang –orang di sekitarnya mau menjahati dirinya) atau waham kebesaran (misalnya yakin bahwa dirinya adalah orang pilihan Tuhan yang memiliki suatu kekuatan khusus).  Halusinasi berupa suara orang yang menyuruh-nyuruh, berkomentar, atau bercakap-cakap sendiri.

2. Skizofrenia Hebefrenik

Gejala yang menonjol berupa pembicaraan kacau, perilaku kacau, dan afek yang mendatar atau menumpul. Pembicaraan kacau dapat berupa asosiasi longgar (contoh : tadi pagi saya makan tempat tidur ada sapi  makan rumput) hingga inkoherensia (contoh : kambing gerak-gerak hitam matahari ditilang). Perilaku kacau misalkan seperti mengumpulkan bungkus makanan dan ditimbun di bawah tempat tidur. Sedangkan afek yang menumpul dinilai dari modulasi gerakan wajah dan perilaku yang disesuaikan dengan isi pembicaraan yang dibicarakan pasien.

3. Skizofrenia Katatonik

Tipe skizofrenia yang ditandai dengan sekurangnya dua gejala berikut : ketiadaan gerak, pergerakan berlebihan tanpa tujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal, sikap melawan berlebihan untuk bergerak ketika diberikan perintah atau postur kaku yang dipertahankan dan tidak bisa digerakan oleh orang lain, postur tubuh yang dipertahankan aneh, ekolalia atau ekopraksia.

4. Skizofrenia Tak Terinci

Skizofrenia yang memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia namun tidak memenuhi kriteria diagnostik subtipe paranoid, hebefrenik, ataupun katatonik.

5. Skizofrenia Residual

Tipe skizofrenia yang ditandai dengan hilangnya waham, halusinasi, pembicaraan kacau, dan perilaku kacau atau katatonik yang menonjol. Namun ditemukan bahwa gangguan tetap berlangsung yang diindikasikan dengan munculnya gejala negatif.

* Penatalaksanaan

Hingga saat ini, tatalaksana untuk penderita skizofrenia masih amat mengandalkan penggunaan obat-obat antipsikotik untuk mengendalikan gejala yang muncul terutama kelompok gejala positif.  Seseorang yang menderita skizofrenia dan tidak mendapatkan terapi hingga bertahun-tahun umumnya akan mengalami kemunduran yang sifatnya progresif dalam fungsi sosial dan pekerjaan.

Berdasarkan penelitian yang ada, kondisi skizofrenia yang dibiarkan menahun akan menyebabkan kerusakan struktur otak yang tidak dapat diperbaiki akibat tingginya aktivitas dopamin di otak. Penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa intervensi psikososial juga penting dalam terapi skizofrenia. Intervensi psikososial yang umum dilakukan adalah psikoterapi  yang dilakukan pada pasien maupun keluarga dan rehabilitasi mental.

Tantangan terhadap tatalaksana untuk gangguan ini sendiri masih sangat besar di Indonesia. Kultur budaya masyarakat yang masih begitu kuat mempercayai hal-hal gaib menyebabkan banyaknya pasien yang seharusnya mendapatkan tatalaksana medis yang benar malah dibawa oleh keluarga berobat ke orang-orang pintar. Ketika akhirnya mendapakan pengobatan yang medis yang benar, kerusakan struktur otak dari pasien umumnya sudah cukup parah dan respon terhadap pengobatan menjadi buruk karena terlanjur sangat besarnya jumlah dopamin yang beredar di sistem saraf.

Stigma yang diciptakan oleh masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa secara tidak langsung menyebabkan keluarga atau masyarakat disekitar penderita gangguan jiwa enggan untuk memberikan penanganan yang tepat terhadap keluarga atau tetangga mereka yang mengalami gangguan jiwa. Sehingga tidak jarang mengakibatkan penderita gangguan jiwa yang tidak tertangani ini melakukan perilaku kekerasan atau tindakan tidak terkontrol yang meresahkan keluarga, masyarakat serta lingkungan.

Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.

Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita skizofrenia. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel 1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita skizofrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.

Beberapa sumber kutipan:

http://fransiscakumala.wordpress.com/2010/02/09/definisi-klasifikasi-gangguan-jiwa-dan-diagnosis-multiaksial/

http://www.medicalera.com/index.php?option=com_myblog&show=mengenal-skizofrenia.html&Itemid=314

http://en.wikipedia.org/wiki/Schizophrenia

Komentar bertahan »

An Overview Of Disaster Management

Saya mencoba merangkum hasil dari  ‘MER-C Disaster Management Seminar’ yang diadakan di Semarang, Oktober 2009 lalu. Semoga berguna.

========================================

[Required Adobe Flash Player]

============================

Sumber:

1.  PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH, SEKRETARIAT BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH. Disaster Management: Potensi & Penanggulangan Bencana . Semarang,  11 Oktober 2009.

2.  Dr.Yogi Prabowo, Sp.OT. Manajemen Bencana. Semarang,  11 Oktober 2009.

3. Dr. Abdul Mughni, Sp.B. Masalah Kesehatan Pasca Bencana. Semarang,  11 Oktober 2009.

4. Dr.Henry Hidayatullah. Wawasan Bencana & Pengenalan MER-C. Semarang,  11 Oktober 2009.

Komentar bertahan »