Sambil melihat statistik blog ada fenomena yang menarik, banyak visitor yang mengunjungi postingan tentang seri sejarah dunia kedokteran. Pertanyaannya mengapa?

Dokter Juga Pahlawan (3): Dr.Soetomo Arek Suroboyo!
Dokter Juga Pahlawan..(Part2)
Dokter Juga Pahlawan…(part1)
Dokter-dokter pengukir sejarah bangsa
Rintisan Sejarah Kedokteran Indonesia (1500-1950)
Artikel-artikel yang saya posting diatas sebenarnya hanya untuk penyemangat bagi para calon rekan sejawat bahwa menjadi dokter adalah panggilan hidup.
Tntang Boedi Oetomo Sendiri akan sedikit saya kutip dari beberapa sumber yang akan saya jelaskan dibawah ini. Mengingat di dekat Kampus SiberMedik terdapat situs Laweyan. Dari Laweyan juga lahir tokoh pergerakan nasional, KH Samanhudi pendiri Serikat Dagang Islam (SDI) yang berikutnya menjadi Serikat Islam. Jadi dari kampung tua itu, pengunjung juga menemukan sejarah pergerakan nasional. KH Samanhudi juga di makamkan di sana.
100 Tahun Kebangkitan Nasional?
Bila kita mengukurnya dari pembentukan organisasi modern, maka sejarah Indonesia bukan dimulai dari terbentuknya “Boedi Oetomo” (20 Mei 190
, karena organisasi pertama yang berdiri di Indonesia adalah “Jamiat al Khair” pada tahun 1905, lalu diikuti “Serikat Dagang Islam” (1906). Inilah fakta sejarah yang jarang diungkap, sehingga mengesankan bahwa kalangan Muslim seolah-olah tidak nasionalis, padahal justru termasuk kelompok pertama yang memunculkan aspirasi kebangsaan Indonesia.
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah.
Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Para pemuka Muslim seperti KH Ahmad Dahlan tidak hanya aktif di organisasi Islam, namun juga bergabung di Boedi Oetomo, karena mereka menyadari tanggung-jawab sosialnya untuk membina komunitas yang mengakar. Namun, akhirnya karena ada berbagai persoalan dalam tubuh Boedi Oetomo yang cenderung menonjolkan kesukuan Jawa, maka tokoh seperti Ahmad Dahlan menyatakan diri keluar dan membentuk organisasi yang lebih terbuka dan independen, yaitu “Persyarikatan Muhammadiyah” (1912).
Dari catatan sejarah itu kita mengetahui bahwa organisasi modern pertama di Indonesia lahir dari kalangan umat yang memiliki kepedulian masalah pendidikan. Kalau nasionalisme diukur dari kepedulian terhadap masalah ekonomi dan kesejahteraan rakyat, maka organisasi Islam juga menjadi pelopor utama. Partai politik yang pertama kali didirikan di Indonesia juga bukan partai beraliran komunis atau nasionalis, tapi partai berideologi Islam yang bernama “Partai Syarikat Islam Indonesia” (PSII).
Pendirinya adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, yang penah menjadi guru dari Soekarno yang kemudian mendirikan “Partai Nasional Indonesia” (PNI). Tokoh Serikat Islam yang terkenal ini yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam dibawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang di perhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dalam acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang biasa kita selenggarakan setiap tanggal 20 Mei, ada pertanyaan, mengapa peringatan itu dilakukan sesuai dengan tanggal kelahiran Boedi Oetomo?

KEBANGKRUTAN NASIONAL? Naudzubillahimindzalik…
Yang terpenting dari Momen 20 Mei ini adalah memperingati peran serta para intelektual muda agar tidak hanya berpikir tentang ranah ilmunya saja, tetapi lebih dari itu! Mari berpikir dan bertindak secara elegan dan terstrukur untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik.
Boedi Oetomo berdiri sebagai simbol bahwa Intelektual muda (dalam masa itu diwakili oleh profesi dokter) harus peka terhadap fenomena-fenomena sosial. Mengaplikasikan ilmunya untuk menolong rakyat kecil dan bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri. Jangan sampai perjuangan para pahlawan ditandai dengan Kebangkrutan Nasional!
MARI KITA BANGKIT!!!
Source:
http://ppsdms.org/tantangan-kepemimpinan-masa-depan.htm
http://www.pks-sleman.org/download/artikel/698159531pksSEJARAH%20ISLAM%20INDONESIA.pdf
http://batikindonesia.info/2006/04/23/strategi-di-balik-tembok-tinggi/