Ssstt! Satu lagi senjata rahasia UNS mempertahankan peringkat Webometrics

UNS Solo Terbaik di Asia

Senin, 25 Mei 2009 | 11:25 WIB

SOLO, KOMPAS.com — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta masuk universitas terbaik dari 200 peringkat universitas terbaik di Asia (termasuk Jepang), sesuai laporan dari The Higher Education Suplement-Quacquarelli Symonds (THES QS) Asia, Mei 2009.

Hasil itu menunjukkan UNS merupakan salah satu dari delapan universitas di Indonesia yang bisa masuk rangking 200 besar di Asia meski di Indonesia ada 2.700 perguruan tinggi. “Peringkat UNS sejajar dengan UNDIP Semarang dan berada diatas UNBRAW Malang,” kata Rektor UNS Prof Dr Much Syamsulhadi, dr SpKj (K), di kampus Kentingan Solo, Senin (25/5).

Daftar delapan universitas di Indonesia yang masuk dalam 200 peringkat Asia, yaitu Universitas Indonesia (UI) berada di peringkat 50, Universitas Gajah Mada (UGM) peringkat 63, Institut Teknologi Bandung (ITB) peringkat 80, Institut Pertanian Bogor (IPB) peringkat 119, Universitas Airlangga (UNAIR) peringkat 130, Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) sama-sama menempati peringkat 171, dan Universitas Brawijaya (UNBRAW) peringkat 191.

Peringkat tersebut disusun dengan menilai kualitas penelitian, situasi dalam jurnal internasional, kualitas pembelajaran di fakultas, angka mahasiswa dan tenaga pengajar asing di UNS dan angka dosen UNS yang aktif di universitas luar negeri, serta keterlibatan alumni UNS di lembaga-lembaga atau industri dunia.

“Prestasi UNS tersebut terkait erat dengan kebijakan internasional Rektor UNS yang diimplementasikan oleh Pembantu Rektor IV melalui pembentukan Taskforce THES QS- International Office yang sudah mulai bekerja pada pertengahan tahun 2008 dan mendaftarkan tahun 2009,” katanya.

Untuk selanjutnya, UNS akan ikut serta dalam pemeringkatan dunia. Salah satu bukti lainnya adalah dengan diterimanya 23 orang dosen UNS untuk menempuh program S-3 di luar negeri dengan biaya DIKTI, mereka akan berangkat 2009, ke beberapa universitas di Eropa, Australia, dan Asia.

Salah satu standar pemeringkatan yang dijadikan acuan adalah hasil penilaian yang dilakukan lembaga pemeringkatan universitas melalui THES-QS. Lembaga yang berpusat di London ini setiap tahun menerbitkan buku panduan untuk mahasiswa pencari universitas di dunia. “Tahun ini THES-QS juga menerbitkan pemeringkatan universitas terbaik di Asia,” kata Rektor UNS.

Beberapa minggu yang lalu saya membaca artikel diatas. Nah, awalnya juga kaget “Kok bisa ya?”. Usut punya usut ternyata berhubungan dengan postingan saya terdahulu saat isyu Webometrics sedang nge-trend. Untuk mempertahankan posisi ini maka disediakan sebuah sarana yaitu space Blog Gratis untuk Mahasiswa, Dosen, Staff, dan Alumni. Fasilitas ini terdiri dari Email Gratis, Blog Gratis, dan Social Networking antar user (yah mirip-mirip FB & FS) dimana harapannya akan membantu meningkatkan rank Webometrics di SEO.

Maka dari itu saya juga pamit mau ‘usung-usung’ ke ‘kaplingan’ blog gratis dari almamater. Tapi tenang saja, saya akan sering-sering mampir ke WP ini. Saya mohon maaf kalau ada postingan yang kurang berkenan, semua itu memang merupakan proses pembelajaran.

Monggo mampir..Maaf masih berantakan, maklum ‘rumah’ baru…

anyar

Artikel terkait:

1. UNS Go-Blog!

2. E-Mail & Blog Civitas UNS.

Komentar bertahan »

Film-film bagus tentang kedokteran (1)

Saat menulis postingan ini kebetulan Siber sedang masuk stase IKM (Ilmu Kesehatan Masarakat), ngomong-ngomong soal promosi kesehatan di Indonesia yang selalu identik dengan penyuluhan, pernahkah terpikir tentang media yang ampuh mendidik masyarakat untuk hidup sehat? Ya benar, media televisi.

Kalau melihat kondisi tayangan TV saat ini yang cenderung memuakkan, isinya sinetron-sinetron wagu ra mutu (jawa: aneh dan tidak berkualitas) ditambah lagi reality show yang isinya cuma membuat orang  suka mengungkit-ngungkit aib orang lain sudah cukup alasan untuk mematikan TV.

Rindu rasanya dengan tontonan yang bisa jadi tuntunan, apalagi tontonan yang mendidik masyarakat tentang kesehatan. Masih ingatkah dengan Sinetron TVRI Jadul yang ada tokoh bernama dokter Sartika? Film seri semacam ini sudah langka (bahkan dah nggak ada), padahal efek film semacam ini pada masyarakat di masa itu sangat signifikan. Masyarakat menjadi tahu ruang lingkup kerja dokter sesungguhnya, menghargai profesi dokter, meniru beberapa adegan yang sengaja disusupi misi promosi kesehatan, dan bahkan menjadi motivator beberapa orang tua agar kelak anak-anak mereka menjadi dokter.

Tapi sekarang  lihat! Beberapa bulan terakhir dokter selalu identik dengan keyword: puyer, malpraktik, aborsi, dll. Ini bukti kurangnya komunikasi antara masyarakat, media pers, dan tenaga kesehatan (dokter, apoteker, perawat, dsb).

Mari Belajar Dari Film-Film Di Bawah ini, siapa tahu akan menjadi inspirasi pihak-pihak yang peduli dengan tontonan yang berkualitas bagi masyarakat.

1. TEAM MEDICAL DRAGON

- Film seri ini bercerita tentang Dokter Ryutaro Asada, seorang Dokter Ahli BTKV (Bedah Thorax dan Kardiovaskuler). Dr.Asada Ryutaro ini memang mempunyai kemampuan yang sangat hebat, dan ia dibuang oleh dunia kedokteran Jepang karena sifatnya yang tidak mau berkompromi apabila menyangkut nyawa pasien, sehingga disingkirkan dengan licik oleh temannya yang memanfaatkannya yaitu Dr. Kirishima Gunji dari Universitas Kita Nihon.

- Sisi Edukasi : Penonton akan memperoleh informasi tentang seluk beluk dunia operasi (secara garis besar) dari prosedur pemeriksaan, diagnosa, hingga jalannya operasi BTKV.

- Sisi Drama : Hmm..dari film ini penontonternyata begini ya kehidupan beberapa ‘oknum’ dokter? Sikut kiri-kanan, injak bawah, sundul atas..he..he..

medraf

2. DR.KOTO SHINRYOJO.

- Film ini menceritakan tentang dr.Goto Kensuke yang memutuskan untuk mengabdi menjadi dokter di pulau terpencil di Jepang (ya..mirip PTT gitu). Cerita di tiap episodenya mungkin akan mirip dengan beberapa pengalaman dokter PTT di Indonesia mungkin? Kecuali ‘Puskesmas’nya yang sudah ada mesin Rontgen, dll.

- Sisi Edukasi: Penonton akan melihat bagaimana seorang dokter dihadapkan pada berbagai kasus medis namun harus bertindak ekstra keras dikarenakan keterbatasan sarana.

- Sisi Drama: Film ini secara tidak langsung menyindir pemerintah jepang tentang pelayanan medis kepada masyarakat yang tinggal di pulau terpencil. (wAH..bagaimana kalau di Indonesia ya?)

dr-koto

3. SAY HELLO TO BLACK JACK.

blab

- Tema ceritanya adalah seorang dokter magang (ya kalau disini Koass gitu…), Eijiro Saito, yang baru lulus dari fakultas kedokteran terbaik di Jepang, yaitu dari Universitas Eiroku.  Dari sini kita diajak untuk mengikuti drama keseharian sang dokter muda yang bergelut dengan isu-isu moralitas, perikemanusiaan, etika, hakikat kebenaran, dan sebagainya, sejalan dengan perkembangan karir dan kedewasaan. Memang, film ini agak To The Point karena menyajikan dengan gamblang ‘kotor’-nya dunia medis di Jepang. Jelas film ini bukanlah konsumsi anak-anak.

- Sisi Edukasi : Penonton akan tahu bagaimana rumitnya sebuah birokrasi dalam suatu badan kesehatan (gak cuma Jepang, Indonesia juga lho..)

- Sisi Drama : Posisi yang sulit bagi seoran dokter muda yang harus bertarung antara idealitas dan realita merupakan alur drama yang akan membawa penonton menjadi mengerti betapa sulitnya menjadi seorang dokter.

——***——

Nah..semoga menjadi inspirasi…

(Bersambung)

Komentar (25) »

Back to WORDPRESS

Setelah terjebak berminggu-minggu di facebook, akhirnya saya memutuskan kembali aktif menulis di blog WP saya.

mohon maaf apabila ada komen2 yang belum saya jawab.

btw,ada blog baru yang sedang saya rintis berupa kliping2 tentang akibat2 facebook..tunggu saja!! ^.^v

Komentar (2) »

MER-C Update News…Feb 2009

Mer-C Palestina

Komentar bertahan »

Laporan Tim Medis MER-C di GAZA

iklan-palestina-5-jan-2009

Komentar (2) »