Kedokteran Informatika · Persona · Uncategorized

Cloud Computing Dibalik Perhipba 2014 (part 1)

GambarHari ini saya bisa sedikit lega akhirnya pesanan buku prosising para peserta Perhipba sudah jadi, walau masih ada “PR” bagi kami panitia untuk pengepakan dan pengiriman. Saya mencoba berbagi flashback mulai dari awal rapat event ini dengan tinjauan sisi ICT nya, yuk!

Sistem Informasi Manajemen Event Organizer, apa ada?

Nah, saat awal rapat saya dan panitia dihadapkan oleh tantangan dana yang minim dan jumlah SDM yang minim. Untuk sekelas acara nasional, setidaknya dibutuhkan suatu sistem informasi dari hulu ke hilir untuk memanajemen setiap aspek yang berhubungan dengan kesuksesan penyelenggaran acara.

Ok, ketemu. Tapi sayang sekali hampir semuanya standalone dan tidak multiplatform. Kembali memutar otak, yang saya butuhkan saat ini adalah sebuah sistem yang bisa multiuser, multiplatform, multifungsi dan free *bukan gratis*. Saya menjatuhkan pilihan untuk memanfaatkan teknologi cloud computing -tepatnya fitur free cloud storage nya-, pilihan jatuh ke Google Drive. Kenapa?

GambarKenapa memilih Google drive? Ada beberapa opsi seperti dropbox, sugarsync, dan lain-lain, tetapi kembali saya menganalisis dari panitia inti yang masih muda. Saya melihat mereka banyak yang menggunakan smartphone dan tablet Android, ya seperti kita tahu bahwa Android ada OS yang dimiliki oleh Google dimana Google Drive merupakan salah satu fitur bawaan yang ada.

 

Dari Hulu ke Hilir

Kalau kita membaca lagi konsep e-business dimana proses SCM (Supply Chain Management), processing hingga CRM (Customer Relationship Management) terolah rapi dalam sebuah sistem informasi, maka inilah yang saya inginkan dalam acara ini bahwa semua hal bisa kami sebagai panitia tangani dari hulu hingga ke hilir.

Sebagai contoh saya ambil panitia untuk seksi ilmiah, disini kami membutuhkan suatu chain process dalam mengelolah naskah makalah dan poster dari peserta. Proses hulu meliputi pemberitahuan call of paper/poster hingga penerimaan sesuai deadline, mirip sekali dengan fase procurement dan purchasing daam sebuah proses bisnis. Skip langsung ke hilir, setelah dilakukan proses penilaian dsb maka naskah yang lolos akan diproses untuk menjadi prosiding.

Untuk menjadi sebuah prosiding pun tak semudah yang dikira, ada fase editing berminggu-minggu hingga naik cetak dan terbit. Keterlambatan proses di salah satu titik akan membuat proses berikutnya akan terhambat, seperti apa yang kami alami dimana keterlambatan proses terjadi di beberapa titik. Untunglah karena semua data tersentral di ‘cloud’ sehingga antar panitia bisa berkolaborasi. panitiaKenapa Tidak Menggunakan OJS?

Ya,memang standar untuk pengolahan naskah publikasi ilmiah biasanya menggunakan CMS Open Journal System (OJS). Hanya saja berdasarkan pengalaman empiris tampilan muka / interface OJS masih tampak kurang user friendly sehingga  kami takutkan peserta poster maupun makalah akan kesulitan mengunggah naskah.

ojsLalu bagaimana pemrosesaan naskah? Mencoba sedikit create from scratch tentang DFD (Data Flow Diagram) nya, campur-campur sedikit degan beberapa tools google yang free akhirnya tersusun seperti ini.

dafatflow naskahMasih banyak lagi yang ingin saya bagi tentang pengalaman memanfaatkan Cloud Computing yang free untuk Event Organizing. Ini hanya satu bagian dari seluruh seksi panitia, yaitu sebagian kecil jobdesk seksi ilmiah. Insya Allah akan saya sambung lagi.🙂

-bersambung-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s