kedokteran Kehakiman · Kedokteran Motivasi · Persona

Lebaran di Rantau

Aku Sedih..Duduk Sendiri..Di Kost Sepi..Nunggu Otopsi
Aku Sedih..Duduk Sendiri..Di Kost Sepi..Nunggu Otopsi

Ini akan menjadi pertama kali bagi saya merayakan lebaran tidak bersama ortu dan adik, maklum kewajiban standby sebagai Chief KoAs forensik. Istilah teman-teman sih Stase “Tahanan Kota”, jadi kalau tiba-tiba ada panggilan visum ya harus datang. Maklum, katanya tahun lalu saja ada koas yang langsung dapat panggilan visum pas setelah sholat Ied, So..Jadi KoAss On Call deh..

Ada juga curhatan Koass-koass dirantau dalam Buletin Board di Friendster:

….Nasib coass…

Disaat orang2 sibuk mudik ketemu ama keluarga mereka, kita para coass tidak bs libur terutama stase2 yg mengharuskan jaga..Sebenarnya bisa mudik juga sih yg rumahnya jauh tetapi cuman 2-3 hr itupun setelah ada pengorbanan dari temen2 yg rumahnya solo dan sekitarnya shg mengorbankan waktu mereka berlebaran di RS..

Gmn sih rasanya lebaran di RS??Aku tdk bs merasakanya krn diriku kebagian jaga di malam lebaran yg kedua…Inilah namanya persahabatan dan persaudaraan bung..Harus ada pengorbanan, so tidak hanya cinta yg bth pengorbanan..Hehe..So buat temen2 yg mudik jgn lupa oleh2 or fitrahnya yak huehuehue…
…Nasib..Nasib..Ya beginilah nasib coass…
NB: andai ada kebijakan dr fakultas meliburkan semua coass saat lebaran cukup 2 hr,tentulah kita sangat senang…Dengarkanlah kami para pimpinan Senat fakultas…(Cuzer)

Curhatan teman diatas jelas-jelas To Good To Be True..Lha kalau koass mudik sing njaga RS siapa? Dokter-dokter senior kan juga pingin lebaran he..he…

Dunia Koass memang miniatur kehidupan dokter kedepan, dimana waktu kerja tidaklah pasti, kadang saat libur pun harus bertugas.

Btw, Sempat tadi sore nonton sebuah iklan Petronas Malaysia di YouTube tentang hari raya. Langsung mbrebes mili beta punya Gland.Lacrimalis. Coba deh tonton..hiks..hiks.

Today – 2007

(Ayah duduk di luar rumah ketika waktu makan, bermenungan…)

Anak mengeluh tapi bersapa dengan lembut: “Abah, kenapa ni? Jom kita naik makan…”

(Bunyi burung berkicauan)

Ayah dengan ceria: “Burung ape tu nak?”
Anak tersengih: “Burung murai.”

Ayah dengan selamba: “Burung ape?”
Anak mula rasa meluat lantaran menjawab dengan laju: “Burung murai, Bah.”

Ayah ‘testing’ sekali lagi: “Burung ape?”
Anak: “Burung murai.”

Ayah buat muka lawak: “Burung ape'”?”
Anak dah tunjuk muka meluat betul: “Abah, Abah ni tak dengar ke buat-buat tak dengar? Apa lagi yang Abah nak saya cakapkan? Burung murai, burung murai tu bah.

Ayah tersenyum sambil menyerahkan coretan arwah ibu si Anak: “Nah, kau baca apa yang mak kau tulis…”

(Anak menyambut dan membelek buku nota berjudul – Kenanganku – Milik Salmah)

<<<>>>

26 JUN 1976

Ibu mengenangkan rasa bahagia memerhatikan bagaimana si Ayah tak jemu-jemu, malah begitu ceria sekali melayan karenah si Anak yang melontarkan soalan yang sama, berulang-ulang kali:

Anak: “Bah, ni burung apa ni Bah?
Ayah: “Burung murai…

Anak: “Burung ape?
Ayah: “Burung murai nama dia…

Anak: “Burung ape?
Ayah: “Burung murai, sayang…

Anak: “Burung ape?
Ayah: “Burung murai, man…”

(berulang-ulang kali sambil mengembalikan burung murai yang terjatuh semasa cuba terbang kembali ke sarangnya.)

Anak tersentuh dan terus sedar keangkuhannya dan terus memohon kemaafan daripada si Ayah.

————————–===—————————

Dari iklan diatas kita dapat bercermin, betapa sabar dan penuh cinta kasih orang tua kita mendidik, membimbing, dan menyayangi kita sejak kecil. Namun apa ang telah kita balas kepada mereka? Semakin dewasa, justru kita malah semakin menentang, merasa pandai karena pendidikan yang lebih tinggi, merasa lebih karena kedudukan yang kita peroleh? Sudah lupakah kita terhadap kasih sayang mereka?

Betapa sayangnya Ayah dan Bunda kita, jangan sampai kita menyesal dikemudian hari sebelm sempat berbakti membalas kasih sayang dan pengorbanan mereka. Sebuah ayat cinta yang mengingatkan kita tentang mereka:

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Q.S Al Ahqaaf 46:15)

5 thoughts on “Lebaran di Rantau

  1. Namanya juga coass, bisa gak mudik, juga gak sempat melakukan banyak hal karena sibuk dan capeknya. Setidaknya ambil hikmahnya bisa ikut merasakan lebaran tanpa mudik setelah bertahun tahun lebaran selalu mudik. Kalo pernah merasakan maka kita akan makin mensyukuri bila nikmat diberikan. Anyway selamat jaga dan selamat lebara,. Mohon maaf lahir dan batin.

  2. Jangan sedih nikmati aja….semua itu ada waktunya sendiri-sendiri.Banyak teman teman yang seperti itu,bahkan ada yang belum pulang ke kampung halaman sedari awal masuk FK…..Memang mengejar cita-cita itu butuh pengorbanan……semangat

  3. tenang aja Om, … insya Allah banyak pahala..
    Ntar setelah jafdi dokter juga gak mudah mudik … hehehe
    So, saya sependapat dengan Daeng Arul, dibiasakan aja deh… mbrebes mili dikit gak papa … yang penting sms dari anak calon mertua lancar🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s