Kedokteran Kerja · Syiar Islam

Safe@Work : Gizi Kerja dan Puasa

Safe@Work: Gizi Kerja dan Puasa

Oleh: PM. Herlambang, S.Ked.

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan suci dimana umat islam diwajibkan untuk berpuasa dan ibadah dinilai berlipat ganda. Namun banyak dari umat islam sendiri yang tidak melaksanakan puasa dengan alasan pekerjaan yang berat, ini sangat disayangkan karena Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang tidak puasa sehari dalam bulan Ramadhan tanpa adanya uzur dan bukan karena sakit, maka tidak dapat diganti dengan puasa setahun penuh, sekalipun ia mau berpuasa setahun penuh.” (HR.Bukhari)

Lalu apakah ada hubungannya antara pekerjaan berat dan kewajiban berpuasa? Mari kita telaah dari sudut pandang kedokteran okupasi dan kesehatan kerja dalam sub topik GIZI KERJA dan Tinjauan PUASA RAMADHAN, sekaligus melanjutkan topik dalam seri sebelumnya.

——–***——–

I. GIZI KERJA.

A. DEFINISI

GIZI KERJA
adalah nutrisi (zat makanan) yang diperlukan pekerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan, sehingga kesehatan dan daya kerja menjadi setinggi-tingginya.

GIZI pada umumnya: mempelajari bagaimana memberikan makanan sebaik-baiknya sehingga kesehatan tubuh optimal.

 



 

 

 

 

 

 

 

 

B. MENU BERIMBANG (HARUS):

  1. LEMAK (20 % TK)
  2. PROTEIN (10-15 % TK)
  3. KARBOHIDRAT (65-70 % TK)

C. YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DALAM MENYUSUN MENU :

  • POLA MAKAN: kebiasaan makanan pokok
  • KEPERCAYAAN / AGAMA: pantang makanan tertentu
  • KEUANGAN: ekonomis tetapi tetap bergizi
  • DAYA CERNA: makanan yg biasa dimakan masyarakat sekitar
  • PRAKTIS: mudah diselenggarakan
  • VOLUME: cukup mengenyangkan
  • VARIATIF: jenis menu bervariasi

 D. ENERGI UNTUK KERJA (KEGIATAN) TERGANTUNG:

  • UMUR
  • BERAT BADAN
  • JENIS KELAMIN
  • KEADAAN KHUSUS
  • METABOLISME
  • JENIS PEKERJAAN: RINGAN, SEDANG, BERAT
  • KEADAAN LINGKUNGAN KERJA

 

JENIS KELAMIN BERAT BADAN (KG) KALORI
LAKI-LAKI 60
55
50
3.000
2.900
2.600
WANITA 50
45
40
2.050
2.000
1.800

 

E. KOREKSI KEBUTUHAN KALORI:

    1. BERDASARKAN UMUR.

 

UMUR (th)

%

20 — 29

30 — 39

40 — 49

50 – 59

60 – 69

> 70

100

97

94

86,5

79

69

    2. BERDASARKAN DERAJAT KEGIATAN

F. KALORI OUTPUT

Kalori In Take dari makanan metabolismenya akan disesuaikan dengan kegiatan tubuh sebagai Kalori output yang meliputi:

  1. Metabolisme Basal (MB).
  2. Kegiatan akibat pengaruh makanan (10% MB).
  3. Kerja otot.

Selisih Kalori In Take dan Output inilah sebagai cadangan energi tubuh apabila digunakan dalam kondisi terdesak, dengan syarat kalori intake dan jenis kegiatan (kerja) sesuai dengan tabel- tabel diatas.  

 

G. KEWAJIBAN PERUSAHAAN DALAM GIZI KERJA.

1. Pengadaan Kantin.

  • TANGGUNG JAWAB PIHAK MANEJEMEN
  • LEBIH 50 ORANG = BIAYA PERUSAHAAN
  • LETAK TERPISAH DARI BAG. LAIN
  • LUAS 25 M2 / 50 ORANG
  • PEMBERIAN MAKAN WAKTU ISTIRAHAT (4-5 JAM SETELAH KERJA)
  • PETUGAS MENDAPAT PENYULUHAN TTG GIZI, KESEHATAN, KEBERSIHAN
  • PETUGAS HARUS DIKONTROL KESEHATANNYA
  • PAKAIAN PETUGAS KHUSUS
  • MAKAN DILAYANI DG KUPON
  • HARUS MENGIKUTI PERMENKES 712 TH 1986 (PERSYARATAN KESEHATAN JASA BOGA).

2.Penyuluhan Gizi Kerja.

  • PENYULUHAN GIZI DAN KESEHATAN TERHADAP SEMUA KARYAWAN TERMASUK STAF DAN PETUGAS KANTIN SERTA PIHAK MANEJEMEN.


—-

 

II. PUASA RAMADHAN

1. Definisi :

Puasa ialah menahan diri dari makan, minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari. Firman Allah SWT:

” …….dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam … “(Al-Baqarah: 187),

2. Kapan dan bagaimana puasa Ramadhan diwajibkan ?

Puasa Ramadhan wajib dikerjakan setelah terlihatnya hilal, atau setelah bulan Sya’ban genap 30 hari. Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal awal bulan Ramadhan disaksikan seorang yang dipercaya, sedangkan awal bulan-bulan lainnya ditentukan dengan kesaksian dua orang yang dipercaya.

3. Siapa yang wajib berpuasa Ramadhan ?

Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap muslim yang baligh (dewasa), aqil (berakal), dan mampu untuk berpuasa.

4. Syarat wajibnya puasa Ramadhan ?

Adapun syarat-syarat wajibnya puasa Ramadhan ada empat, yaitu Islam, berakal, dewasa dan mampu.

5. Siapa saja yang diperbolehkan tidak berpuasa?

  • Orang sakit yang berbahaya baginya jika berpuasa dan orang bepergian yang boleh baginya mengqashar shalat. Tidak puasa bagi mereka berdua adalah afdhal, tapi wajib menggadhanya. Namun jika mereka berpuasa maka puasa mereka sah (mendapat pahala).

    Firman Allah Ta’ala:

    ” …..Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain… ” (Al-Baqarah:184).

    Maksudnya, jika orang sakit dan orang yang bepergian tidak berpuasa maka wajib mengqadha (menggantinya) sejumlah hari yang ditinggalkan itu pada hari lain setelah bulan Ramadhan.

  • Wanita haid dan wanita nifas: mereka tidak berpuasa dan wajib mengqadha. Jika berpuasa tidak sah puasanya.

    Aisyah radhiallahu ‘anha berkata :

    “Jika kami mengalami haid, maka diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan menggadha shalat. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

  • Wanita hamil dan wanita menyusui, jika khawatir atas kesehatan anaknya boleh bagi mereka tidak berpuasa dan harus meng-qadha serta memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Jika mereka berpuasa maka sah puasanya. Adapun jika khawatir atas kesehatan diri mereka sendiri, maka mereka boleh tidak puasa dan harus meng-qadha saja.
  • Orang yang tidak kuat berpuasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh. Boleh baginya tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Demikian kata Ibnu Abbas menurut riwayat Al-Bukhari. Sedangkan jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum, atau satu sha’ (+ 3 kg) dari bahan makanan lainnya.

——

III. PEMBAHASAN

Dari kedua sudut pandang diatas maka dapat kita simpulkan bahwa bekerja bukanlah halangan untuk berpuasa (kecuali termasuk dalam golongan yang diperbolehkan berpuasa).

Lalu bagaimana mempersiapkan fisik dalam menghadapi Puasa Ramadhan? Mari kita cari solusinya..

  • PENGATURAN WAKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT.
    • Jumlah jam kerja efisien per minggu adalah 40-48 jam yang terbagi dalam 5-6 hari kerja.
    • Dari sudut pandang fisiologi, kerja lembur sangat merugikan kesehatan. Dalam putaran 24 jam/hari terdapat 3 siklus keseimbangan tubuh yaitu:
      • 8 jam kerja.
      • 8 jam interaksi sosial, dan
      • 8 jam istirahat.
    • Maksimum kerja tambahan yang masih efisien adalah 30 menit.
    • Diantara waktu kerja harus disediakan waktu istirahat yang jumlahnya 15-30% dari seluruh waktu kerja.
    • Pemberian waktu istirahat bertujuan:
      • Mencegah terjadinya kelelahan yang berakibat pada penurunan kemampuan fisik dan mental. (menurunkan efisiensi kerja).
      • Memberi kesempatan tubuh untuk melakukan pemulihan dan penyegaran.
      • Memberi kesempatan waktu untuk melakukan kontak sosial.
    • Istirahat yang ditetapkan atas dasar perundang-undangan yang berlaku 1jam tiap 4 jam kerja, dan diselingi 15 menit setelah 2 jam kerja.
    • Untuk pekerja yang berpuasa sebaiknya pihak manajemen melakukan kebijakan penambahan jam istirahat, penambahan pergantian shift pekerja, dan atau pengurangan jam kerja selama bulan Ramadhan.
    • Semakin lelah kondisi seorang pekerja maka akan semakin banyak dia melakukan istirahat curian, ini sangat membahayakan dan merugikan, baik dari pihak pekerja maupun dari pihak pengusaha karena dapat meningkatkan resiko kecelakaan kerja dan pada akhirnya menurunkan kinerja perusahaan.

 

  • PENGATURAN KEBUTUHAN GIZI KERJA.
    • Jika kalori yang dibutuhkan di tempat kerja 40% total kalori sehari dimana makan pagi (penting) menyumbang 20% diantaranya, maka agar fit sepanjang hari selama berpuasa sekitar 14 jam kita memerlukan asupan gizi yang baik. Kunci utamanya adalah dengan mengatur sebaik-baiknya konsumsi makanan waktu sahur dan buka puasa.

       

    • Saat sahur, perbanyak asupan serat, protein dan lemak serta serat pangan yang dapat diperoleh dari konsumsi sayuran dan buah.
    • Kurangi asupan karbohidrat, karena banyak karbohidrat hanya akan mensuplai energi sekitar 3-4 jam saja, sedangkan protein dan lemak bisa lebih lama sehingga pengosongan lambung agak lambat sehingga tidak mudah lapar.
    • Untuk menghindari lemas, Anda juga bisa mengkonsumsi segelas susu saat sahur, konsumsi pula suplemen yang mengandung vitamin B kompleks agar metabolism optimal.
    • Untuk pekerja di ruang ber-AC sebaiknya pada saat sahur, minumlah setidaknya dua gelas air. Satu gelas saat Anda selesai makan sahur, dan satu gelas lagi sesaat sebelum imsak.
    • Saat berbuka, hindari minuman manis yang mengandung sukrosa (sirup, dll), gantilah dengan pemanis alami (fruktosa) dari sari buah-buahan (jus).
    • Hindari juga memulai buka puasa dengan sebatang rokok karena akan memicu kadar asam lambung. Hindari pula berbuka puasa berlebihan seolah-olah “balas dendam” karena seharian perut kosong.

***NAH..SEKARANG TIDAK ADA ALASAN LAGI UNTUK TIDAK BERPUASA DENGAN ALASAN PEKERJAAN YANG TERLALU BERAT***

Literatur:

1. Al Qur’an digital.

2. Hadits web 3.0

3. Tarwaka et al. 2004. Ergonomi untuk Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Produktivitas. UNIBA Press, Surakarta.

4. Djaenudin,M, 2008. Kiat Menjaga Stamina Selama Bulan Puasa

5. Hendrarto, S, Freddi, 2007. Tips Bekerja Saat Puasa.

6. Hadian, S., dr., 1987, Menata Ilmu Gizi Terapan Bagi Peningkatan Mutu Olahragawan Indonesia Menjelang Tahun 2000. CDK-Jakarta

7. Harminto,. dr. 2007, Kuliah Kedokteran Okupasi dan Industri.pdf, FKUNS-Surakarta.

8. NoNameFace, 2008.,Shift Work

Semoga Romadhon ini membuat kita berubah menjadi lebih baik…Amin..

19 thoughts on “Safe@Work : Gizi Kerja dan Puasa

  1. Wawww .. panjang ..
    Secara saya hampir 1 kwintal beratnya berarti kalo saya memerlukan 3000 kalori .. wah kesempatan untuk makan banyak nih .. hehehe istri saya pasti ngamuk kalo tahu ..
    Oh ya dalam perjalanan turun sampai ke bawah sini saya liat-liat kita punya hal yang sama, perkenalkan saya juga ENTJ

  2. bung siber…..artikel yang sangat bermanfaat ….sebagai panduan perusahaan dan karyawan…..saya sendiri pernah menulis dalam blog saya berdjudul ramadhan sebagai bulan produktif….bukan bulan bermalas-malasan…..btw kalau tidak salah ada satu lagi yang tidak wajib puasa yakni musafir sementara(supir antar wilayah) namun wajib diqadha ……kemudian tentang gambar dua,hemat saya urutan analisisnya adalah faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik karyawan……> gizi buruk——>daya tahan fisik fisik menurun plus absensi bertambah—-……>daya kerja menurun—–>produktifitas kerja menurun——->kinerja menurun……salam

  3. Andai semua berjalan sesuai panduan, niscaya gizi dan kesehatan okupasi akan berjalan optimal… Sayangnya tidak semua pemilik modal memperhatikan kesehatn karyawannya. Saudara-saudara kita para karyawan (terutama yang kerja dalam waktu lama) bukannya kurang kesadaran, tapi mereka pada posisi tidak berdaya.
    Sebagai contoh, di daerah kami, para karyawan perusahaan kayu lapis berkerja 12 jam dengan istirahat 1 jam. Apa bisa fit ???
    Ngadu ke DPRD maupun Pemereintah Dearah, gak pernah bisa mengatasi hal ini. Ironisnya, ketika sekitar 42% para karyawan dinyatakan kurang gizi, kambing hitamnya adalah karyawan…wuaaaaaaaaaaaa … Ironisnya lagi, pihak kesehatan juga ngomong gitu. Ini menandakan para penganalisa kesehatan okupasi lebih banyak bermain angka ketimbang mengamati pola “kerja rodi’ para karyawan.
    Di sisi lain, walaupun kerja 12 jam sehari dengan istirahat 1 jam (sholat ngebut, mkan ngebut) toh saat bulan Ramadhan mereka tetap puasa.

    Saya lebih menyoroti sistem ketenaga kerjaan yang belum amerata dalam keberpihakan kepada karyawan. Mereka kebanyakan tanda tangan doang saat disodori KKB (Kesepakatan Kerja Bersama).
    Kompleks yaaa …

    Sssst, kalo PNS gimana ???

  4. wah artikel aktual yang menarik dik sesuai dengan realita di masyarakat sekarang ini. Semoga bisa jadi bahan pertimbangan bagi orang yang membutuhkan…..salam ramadhan

  5. Cakmoki ..
    Kalo PNS-nya termasuk dalam batalion 801
    (masuk jam delapan, keleleran ngga ngerjain apa-apa, ikut apel lagi jam 1) kayaknya disuruh puasa sampe jam 9 malam juga masih termasuk pengampunan .. tapi biasanya yang kayak gini sudah lebih disiplin ada di meja makan sejak 1 jam sebelum buka ..

  6. wah.. lengkap banget infonya…
    tapi yang menjadi pertanyaan, apakah semua pekerja yang ada di indonesia memperhatikan panduan tersebut..?? kalo tenaga kerja terdidik, bisa saja mencukupi kebutuhan gizinya sesuai dengan panduan tersebut. sekarang kita liat pekerja yang tidak terdidik (misalnya buruh). Udah untung mereka bisa makan. mereka ga perduli ama panduan gizi yang ada. seharusnya ada sosialisasi mengenai panduan tersebut, agar masyarakat indonesia menjadi tenaga kerja yang memiliki kualitas kerja yang baik.
    atau mungkin juga, panduan ini diberikan pada perusahaan atau disosialisasikan kepada pemilik usaha agar memperhatikan gizi pekerjanya… bukan diperas tenaganya aja, tanpa diperhatikan asupan gizinya…

    gimana kalo aku, ya…??? BB ku aja kurang dari 40, trus kalori yang dibutuhkan berapa, ya..?? apa sama dengan yang lain..???

  7. wah.. wah.. pak dokter yang satu ini bener-bener baik banget…

    suka kasih info yang bener2 mengena dan bener-bener bermanfaat…
    aku dulu emang pernah dapet mata kuliah gizi di bangku kuliah…
    tapi itu dulu.. sekarang malah lupa…

    makasih udah diingetin lagi…

    makasih atas artikelnya yang bener2 bermanfaat banget dan berguna…

  8. @aRul
    sama-sama..komennya kok sedikit? padahal ntar di dunia kerja bakal banyak masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan loh..

    @Dani
    Yah..ini mah bicara tentang kerja, terutama kerja dengan FISIK, kalau pelajar sih dengan OTAK, jaddi banyakin glukosa, air, o2, plus istirahat.

    @draguscm.
    Hmm..kan ada standard Index Masa Tubuh (IMT atau BMI)? di cocokin aja..kalau dibawah standard ya ditambah..kalau kelebihan ya dikurangi..easy wasn’t?

    @Prof.Sjaffrie
    Hmm…nanti saya pertimbangkan untuk editing prof, sekalian mampir ke artikelnya prof.sjafrie.

    @CakMoki
    weleh..weleh…ternyata gitu ya cak? main angka-angka..wah cak moki pantenya jadi Intel aja di Depkes atau nggabung ke KPK divisi korupsi dana kesehatan…He..he..

  9. @kobal
    Iya dok..ini mau mbahas ergonomi tetapi banyak tinjauan rehab.medisnya..saya jadi tertantang..apalagi yang CTS (Carpal Tunnel Syndrome).

  10. Eh kang, saya mo nanya neh. *benernya rada2 gak nyambung sih*
    Kalo misalnya pas puasa kita ada di negara laen. Contoh ekstrem aja, kutub neh, yang pas musim panas, di mana matahari gak pernah tenggelam. Nah, tuh puasa berapa jam? Sempet nanya2, dan katanya ada hadist yang intinya bilang untuk “menjangkakan waktu puasa” *sori kang, lupa kutipannya*

    Nah, maksudnya “menjangkakan” itu gmn? Dikira2 sendiri jamnya, atau masih tetep bergantung sama (perkiraan) terbenamnya matahari?
    Bahas dong kang! Menarik neh.

  11. Kurang setuju dengan alur dari GIZI KERJA. Menurut saya alur ini yang benar :

    GIZI KERJA BAIK ==> DERAJAT KESEHATAN TK MENINGKAT ==> TK RAJIN, DISIPLIN, DAN LOYAL ==> PRODUKTIVITAS MENINGKAT.

    Jadi meskipun gizi kerja baik, tapi TK-nya males2an ya tetep aja gak produktif…. hehehe

  12. Ha..ha..sering kali halangan seseorang untuk berpuasa, bukan karena keterbatasan kesehatan atau beratnya pekerjaan. Tapi masalah hati. Sebab dari hatilah bersumber segala sesuatu. Pekerjaan dan Kesehatan sering kali kasian…jadi kambing item alias excuse.

  13. tengs ya dok atas artikelnya..kebetulan aq lagi ada tugas makalah analisis gizi pada pekerja di kampus q.semoga kedokteran okupasi dapat membantu masalah gizi pada kesehatan pekerja..Amiin

  14. @crappucino
    Ya, ushul fiqihnya macem-macem, tapi kalau secara perintah tertulis di Al Qur’an, puasa mulai matahari terbit sampai tenggelam. Janji Allah SWT dala Al-Qur’an bahwa semua cobaan yang diberikan Allah SWT tidak mungkin melebihi kemampuan mahluknya. (Q.S Al Baqarah)

    @Dhani Aristiyawan
    Boleh berpendapat, tapi harus didasakan pada bukti empiris apanila ingin diskusi secara ilmiah.

    @Yudhi Gejali
    Iya pak Yudi, saya juga heran…

    @drianalubis
    Ya, coba saja cari literatur diatas ya.

    @Adi
    Makasih dok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s