Kedokteran Keluarga · Kedokteran Motivasi · Persona

Karena lansia bukan miniatur remaja

Hujan deras di Solo hari senin (04/02/08) nggak berarti aktivitas terhenti, masih ada tugas Posyandu Lansia dekat kos. Penulis (walau belum jadi dokter) sudah mulai tenaga medis sejak 7-8 bulan lalu ketika para ‘sejawat’ (baca: Ko ass ) nge-les nggak bisa njaga dengan alasan “ko ass kan sibuk?”..he..he… nggak apa-apa kok, itung-itung jam terbang. Biasanya siy njaga bareng ama Teman & Temen tapi kayaknya mereka lagi sibuk masing-masing, ya udah nggak apa2 single fighter

Menghadapi Lansia memang berbeda..Mereka adalah senior dalam kehidupan, jadi harus respek apalagi empati. Yang jadi pergulatan hati *halah* adalah saat mendengarkan keluhan mereka, kadang merasa ada keterbatasan baik penulis maupun sarana.

  1. Faktor Bahasa. Istilahnya unggah-ungguh, nah apalagi penulis dengan background jawatimuran yang kesannya kasar, jadi mesti ati-ati kalau ngomong dengan klien..eh..pasien Ding!
  2. Faktor Fisik Pasien. Mereka adalah veteran kehidupan,degenerasi sel-sel merupakan fenomena yang wajar untuk usia mereka pada umumnya.Kadang harus ngomong keras alias menekankan intonasi sehingga terkesan ‘teriak’. Belum lagi disabillity bagi mereka yang memiliki deformitas, bingung deh kalau mau ngerujuk ke  Puskesmas.
  3. Faktor OBat. Dilema ya…Kalau sejawat ngeresepi Batuk Kering pake DMP ato GG? Pasti kemungkinan besar DMP, tapi pada kenyataannya disini nggak ada tuh..jadi ya pake GG…yang paling bingung kalau ada pasien suspek OA ternyata AINS yang tersedia cuma Antalgin & Paracetamol *glodaks*..masa’ mau dikasih Dexamethasone? ntar malah Progresif?..Jadi intinya cuma pengobatan simptomatik..semoga bukan paliatif (hiks..)..waktu tanya ke petugas Posyandu untuk menambah jenis obat mereka bilang “ndak boleh Puskesmas tuh mas?”. Ya udah khusnudzon aja, mungkin mereka belum percaya 100% dengan pengobatan ala mahasiswa he..he..*Cak Moki ngguyu..*

nih macem obatnya

Mengutip dokterearekcilik yang saya modifikasi, “Karena Lansia bukan Miniatur Remaja”.
Penyakit yang diderita Lansia biasanya merupakan sequelae alias komplikasi dari penyakit sebelumnya, daya regenerasi mereka mulai tutrun begitupula imunitas, belum lagi masalah psikis..jadi melihat Lansia janganlah secara simptomatik tetapi holistik (Psikoneuroimunologi & biopsikososial)…jadi ya gitu deh…Penulis lebih banyak memberikan edukasi pasien tentang penyakitnya, mengajak ngobrol, etc daripada obat-obatan…maklum simbah seneng kalo ada yang ngajak ngobrol.

9 thoughts on “Karena lansia bukan miniatur remaja

  1. Kata orang kita dari perut ibu-bayi-anak-remaja -dewasa-tua-kembali lagi ke perut bumi……masa orang tua biasax sifat kekanak-kanakan seringkali muncul….jadi merawatnya perlu kesabaran..Tumbuhkan rasa empati …anggap seperti merawat keluarga sendiri.kitapun kelak mengalami fase itu…..

  2. dinda siber.ko-as;kalau diukur dari segi usia saya sudah termasuk lansia (65 tahun)……..akhir april ini masuk masa pensiun……saya pernah menulis bersama dr illah berjudul produktif di usia lansia…..di situ diuraikan memang karena usia, potensi seseorang akan semakin menurun….. namun lansia bukanlah sebagai unsur penghambat untuk berbuat terbaik sesuai potensinya……apakah jadi pendawah,penulis,penceramah,penyuluh, pebisnis, dan bahkan jadi dosen…….dan tentunya jadi kakek atau nenek yang mumpuni buat para cucu…..

  3. @ Dian Sofiana
    Makasih ya Adinda atas tambahannya…

    @ Dani Iswara
    Ya namanya juga learning..kalau dr. dani iswara mengenalkan M-Learning & E-Learning..saya nyoba R-Learning (Reality Learning:-D)

  4. @Prof Syaffrie
    Ralat Prof:
    1. Saya Belum Koass (doakan semoga Sept 08 dah resmi koas..Gaudeamus Igitur menunggu :-))
    2. Lansia Bukanlah Penghambat….mereka adalah sumber semangat..sumber pengalaman…sumber inspirasi dalam hidup…suatu saat saya juga akan mengalaminya..
    3. Beberapa lansia yang pernah saya hadapi justru para pekerja keras…ada yang sebagai pedagang di pasar, kuli bangunan, etc..justru sebgai dokter kelak hal-hal ini yang harus dipertimbangkan sebelum memberikan terapi yang seharusnya.
    4. Jangan panggil dinda prof, kesannya saya cewek he..he..padahal kan cowok…

  5. Yup, setahu saya hipertensi, osteoarthritis, sama rhematoid arthritis masih menduduki penyakit yang sering diderita lansia -, lebih cocok di ganti geriatri aja, biar nggak nyinggung perasaan- soalnya mereka kan nggak tahu. he… 3x

    btw, selain itu juga ada penyakit alzheimer, sama musculoskeletas degeneration.

    Jadi teringat sabda Rosululloh SAW , ” Perlakukan orang tua mu sebaik mungkin, niscaya anak mu akan memperlakukanmu juga dengan baik ” atau begitulah kata rasululloh. sama ” semua dosa akan ditangguhkan pembalasannya nanti di yaumul akhir, kecuali dosa durhaka pada orang tua. ”

    so, jaga baik – baik orang tua kita di rumah, dan perlakukan mereka sebaik mungkin. karena merakalah ladang amal pertama buat kita, dan kita adalah sebaik-baik warisan dari mereka. terutama anak yang sholeh yang mendoakan orang tuanya.

    hmm, masih banyak. cuman takut kebanyakan.

    Itu dulu pak dokter.,… jika ada kurangnya mohon maaf. tapi kalau ada lebihnya tolong di kembalikan. He… 3x

    Wassalammu’alaikum wr wb.

  6. @Hanif
    thanks tausiahnya..kata GERIATRI memang identik dengan LANSIA..masalahnya kalau pakai GERIATRI ntar dgrebek ma para KGER (KONSULTAN GERIATRI) gmn?kan malu2in nampang di tag search engine mbah google..he5x..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s