Kedokteran Keluarga

(m)buat anak kok coba-coba??

Mungkin berita yang paling ngetop selama minggu kemarin adalah berita tentang penculikan anak, ya Raisya Ali. Sebenarnya ini hanya fenomena gunung es, mungkin karena ortu Raisya mempunyai pengaruh luas sehingga Pak Presiden SBY (kalo Kelik nyebut nya Si Bapak You Do You Know He..he3x) pun turun tangan “memohon” penculik melepas Raisya, alhasil bocah kecil inipun ditemukan dengan selamat.

(antv).Jakarta, Raisyah Ali, bocah usia lima tahun anak pasangan Ali Said dan Nizma, yang diculik sejak 15 Agustus lalu, kini ditemukan kembali dalam kondisi sehat. Kapolda Metroa Jaya Irjen Pol.Adang Firman dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya mengatakan otak penculikan YP bersama temannya ANG, tadi pagi, ditangkap di sebuah pom bensin antara Kampung Rambutan Jakarta Timur dan Lenteng Agung Jakarta Selatan.

Sementara tiga penculik lainya ditangkap di tempat terpisah. Kelima tersangka penculik bocah berusia lima tahun itu kini berada di Mapolda Metro Jaya.

Otak pelaku penculikan YP bukan orang jauh keluarga orang tua Raisyah.

Sementara keluarga Raisyah lainnya menyambut gembira ditemukannya kembali Raisyah dan melakukan sujud syukur Mereka berharap agar pelaku penculik Raisyah ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Lain hal-nya dengan kasus penculikan, media juga memunculkan fenomena kekerasan orang tua terhadap anak. Layaknya cerita Cinderella atau Bawang Merah Bawang Putih, penyiksa anak pun kebanyakan adalah orang tua tiri.

Kasus-kasus kekerasan terhadap anak meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data Komnas Perlindungan, total kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi pada 2005 sebanyak 736 kasus. Dari angka tersebut 327 di antaranya kasus kekerasan seksual. Sisanya kekerasan secara psikis dan penelantaran anaknya. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Menurut pendapat Vander Zanden (1989), perilaku menyiksa dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penyerangan secara fisik atau melukai anak; dan perbuatan ini dilakukan justru oleh pengasuhnya (orang tua atau pengasuh non-keluarga). Menurut data penelitian diungkapkan bahwa penyiksaan secara fisik banyak dialami oleh anak-anak sejak masa bayi, dan berlanjut hingga masa kanak-kanak sampai remaja.

Mungkin beberapa kutipan berita ini bisa menggugah jiwa kita yg suatu saat dalam hidup ini akan mendapat peran sebagai ORANG TUA.

Liputan6.com, Pematang Siantar: Selama bertahun-tahun Ayu menjadi korban penyiksaan sang ibu angkat, Suarni dan putrinya Ramayani. Kasus itu terungkap setelah pihak Kepolisian Resor Kota Pematang Siantar bersama warga, menggerebek rumah kontrakan yang didiami para tersangka di Jalan Medan Gang Air Bersih, Pematang Siantar, Sumatra Utara, Rabu (22/8) dini hari.Ketika menggeledah seisi rumah, mereka tak menemukan satu pun tersangka. Mereka hanya mendapati Ayu dalam kondisi sangat mengenaskan tergeletak di atas dipan. Di sebagian tubuh gadis berusia 11 tahun ini terlihat bekas luka. Kendati sukar dimengerti, ia mencoba menceritakan peristiwa memilukan yang dialaminya.Korban mengaku kerap dipukul dan kepalanya dibenturkan ke dinding. Bahkan, ia tidak diberi makan berhari-hari. Bocah malang ini juga sering dikurung dalam sebuah kotak dari tripleks sehingga tidur dan buang air pun dilakukan dalam kotak tersebut.

Liputan6.com, Sanggau: Zulkidah alias Idah, bocah berusia enam tahun warga Sanggau, Kalimantan Barat, menjadi korban penganiayaan ibu tiri hingga lumpuh. Beruntung, korban dapat diselamatkan warga saat kedua orang tua angkatnya tidak di rumah. Kondisi korban kritis sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Dokter Soedarso, Pontianak, Kalimantan Barat.

Kini, tubuh Idah hanya tersisa kulit dan tulang, kedua kaki lumpuh, serta tulang hidung patah akibat kerap disiksa sang ibu tiri. Korban juga tidak diberi makan selama lima hari. Untuk menanggung perbuatannya, kedua orang tua angkat korban ditahan di Markas Kepolisian Sanggau.

Kondisi Idah memang terus membaik. Nafsu makannya sangat baik sehingga berat badannya bertambah. Ketika dibawa ke rumah sakit pada 14 Agustus silam hanya delapan kilogram, sekarang sudah 10 kilogram. Bocah perempuan itu pun sudah mau berbicara, bahkan tidak ragu mengungkapkan keinginannya bila sembuh nanti.

Bertahun-tahun Idah dianiaya ibu angkatnya, Titin Indah Lestari alias Satin, di rumahnya di kawasan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalbar. Ia dipukul, disiram air panas, disundut bara rokok, juga dikurung berhari-hari di kamar mandi tanpa diberi makan. Padahal, Satin masih terhitung kerabat Idah.

Metrotvnews.com, Palu: Ditemani enam teman sekelasnya, Irfan Rolando, siswa kelas empat sekolah dasar mendatangi ruang Ssentra Pelayanan Kepolisian Resor Kota Palu, Sulawesi Tengah. Irfan yang berusia 10 tahun, warga Jalan Gunung Loli, Palu Timur, melaporkan ibunya, Lusiana. Irfan mengaku bersama empat kakaknya ditelantarkan sang ibu selama hampir dua bulan. Irfan mengaku, dua bulan terakhir ibunya selalu meninggalkan dia dan kakak-kakaknya di rumah mereka. Anak-anak ini tidak pernah mendapat perhatian dan tidak diberi uang. Untuk makan, Irfan dan kakak-kakaknya hanya mendapatkan belas kasihan dari tetangga. Sementara ayah Irfan, Anwar Siregar, dua bulan ditahan di Mapolresta Palu setelah dilaporkan istrinya karena penganiayaan.

Sambil membuka slide catatan kuliah Pediatrik & Psikiatri semester VI & VII, SiberMedik mengutip kuliah Pediatri Sosial tentang Nilai Anak. Sedikit berbagi, mari kita telaah betapa berharganya Buah Hati yang telah Allah Swt amanahkan kepada kita untuk dijaga & dididik dengan baik.

::::NILAI ANAK::::

Sebagai salah satu bagian dari suatu komponen masyarakat, anak memiliki peran dalam Life Span (Siklus Hidup) suatu komunitas, antara lain:

•KEPENTINGAN KELUARGA

  1. KELANGSUNGAN, KESINAMBUNGAN, KEBANGGAN HIDUP INDIVIDU, KELUARGA
  2. PUSAT PERHATIAN / KASIH SAYANG ORANG TUA
  3. TALI PENGIKAT SUAMI – ISTRI

•KEPENTINGAN NASIONAL

  1. GENERASI PENERUS
  2. MODAL UTAMA KELANGSUNGAN HIDUP NEGARA

•KEPENTINGAN UMUM / GLOBAL

  1. KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA
  2. ANAK : PARAMETER SOSIAL, EKONOMI, POLITIK

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Q.S Al Kahfi :18)

::::ASPEK PEDIATRI SOSIAL::::

Pediatri Sosial adalah suatu usaha atau cara pendekatan yang dilakukan secara terus menerus pada anak, dimulai sejak dalam kandungan, waktu lahir, bayi, sampai usia remaja, agar anak dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya.

I.ETIOLOGI SOSIAL DARI PENYAKIT ANAK

  1. MAKANAN BAYI
  2. POLA PENGURUSAN ANAK PENYAKIT
  3. HIGIENE & SANITASI ANAK
  4. LINGKUNGAN

II.KEPERCAYAAN, SIKAP, TINDAKAN MASYARAKAT MENGENAI MASALAH ANAK

  1. PENGERTIAN WAKTU ANAK SEHAT, ANAK SAKIT
  2. KEPERCAYAAN PENYEBAB PENYAKIT
  3. SIKAP DUKUN TERHADAP DOKTER

III.KETERAMPILAN & KEBIJAKSANAAN MENGHUBUNGI ORANG TUA

  1. PENDIDIKAN KESEHATAN
  2. PENYULUHAN

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

(Q.S Ali Imran :3)

Betapa vital peran anak dalam masyarakat. Dengan merawat & mendidiknya dengan baik diharapkan mereka tumbuh menjadi generasi penerus tongkat estafet yg tangguh baik dalam Agama, Keluarga,Nasional, maupun Global.

Untuk lebih menekankan betapa perlunya perhatian terhadap perkembangan anak, berikut SiberMedik kutipkan dari e-psikologi tentang masalah yang mungkin timbul pasca Child abused:

I. Masalah Relasional

  • Kesulitan menjalin dan membina hubungan atau pun persahabatan
  • Merasa kesepian
  • Kesulitan dalam membentuk hubungan yang harmonis
  • Sulit mempercayai diri sendiri dan orang lain
  • Menjalin hubungan yang tidak sehat, misalnya terlalu tergantung atau terlalu mandiri
  • Sulit membagi perhatian antara mengurus diri sendiri dengan mengurus orang lain
  • Mudah curiga, terlalu berhati-hati terhadap orang lain
  • Perilakunya tidak spontan
  • Kesulitan menyesuaikan diri
  • Lebih suka menyendiri dari pada bermain dengan kawan-kawannya
  • Suka memusuhi orang lain atau dimusuhi
  • Lebih suka menyendiri
  • Merasa takut menjalin hubungan secara fisik dengan orang lain
  • Sulit membuat komitmen
  • Terlalu bertanggung jawab atau justru menghindar dari tanggung jawab

II. Masalah Emosional

  • Merasa bersalah, malu
  • Menyimpan perasaan dendam
  • Depresi
  • Merasa takut ketularan gangguan mental yang dialami orang tua
  • Merasa takut masalah dirinya ketahuan kawannya yang lain
  • Tidak mampu mengekspresikan kemarahan secara konstruktif atau positif
  • Merasa bingung dengan identitasnya
  • Tidak mampu menghadapi kehidupan dengan segala masalahnya

III. Masalah Kognisi

  • Punya persepsi yang negatif terhadap kehidupan
  • Timbul pikiran negatif tentang diri sendiri yang diikuti oleh tindakan yang cenderung merugikan diri sendiri
  • Memberikan penilaian yang rendah terhadap kemampuan atau prestasi diri sendiri
  • Sulit berkonsentrasi dan menurunnya prestasi di sekolah
  • Memiliki citra diri yang negatif

IV. Masalah Perilaku

  • Muncul perilaku berbohong, mencuri, bolos sekolah
  • Perbuatan kriminal atau kenakalan
  • Tidak mengurus diri sendiri dengan baik
  • Menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak wajar, dibuat-buat untuk mencari perhatian
  • Muncul keluhan sulit tidur
  • Muncul perilaku seksual yang tidak wajar
  • Kecanduan obat bius, minuman keras, dsb
  • Muncul perilaku makan yang tidak normal, seperti anorexia atau bulimia

Tidak semua anak akan memperlihatkan tanda-tanda tersebut di atas karena mereka merasa malu, atau takut untuk mengakuinya. Bisa saja mereka diancam oleh pelakunya untuk tidak membicarakan kejadian yang dialami pada orang lain. Jika tidak, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih hebat. Tidak menutup kemungkinan, anak-anak tersebut justru mencintai pelakunya. Mereka ingin menghentikan tindakannya tetapi tidak ingin pelakunya ditangkap atau dihukum, atau melakukan suatu tindakan yang membahayakan keutuhan keluarga.

Gejala-gejala diatas juga merupakan ciri-ciri kecenderungan anak menjadi Pribadi Antisosial bahkan dapat menjurus kemungkinan Psikopat .

Sekali lagi, untuk PASUTRI yang ingin punya anak…dipikir lagi tentang semua aspek untuk (calon)anak agar tumbuh kembangnya sempurna secara Psikoreligius, psikososial, maupun psikoneuroimunologi. Kalau boleh mengutip Iklan di TiVi “..Buat Anak kok Coba-coba..”, SiberMedik berpesan “..Mbuat anak kok coba-coba??”

9 thoughts on “(m)buat anak kok coba-coba??

  1. yup… punya anak jangan hanya karena sudah menikah😀 tapi dipikirkan dulu apa kita sudah benar2 siap menerima kehadiran seorang anak di tengah – tengah kita. jangan sampai timbul penyesalan di belakang hari. berikan yang terbaik buat anak kita. bukan dia yang meminta dilahirkan ke dunia ini.

  2. iya mas saya menanggapi post traumatik pasca KDRT ataupun penculikan. Ada beberapa hal yang patut di garis bawahi bahwa stress pada masa kecil akan berakibat pada masa depan. KDRT ini mungkin saya gambarkan sebagai OSPEK mahasiswa dimana dulu korban sekarang pelaku. Sangat sulit menerima kenyataan bahwa orang yang harusnya menyayangi adalah orang yang paling menyakiti. Sehingga dapat dibayangkan betapa dia tidak percaya dengan orang dan selalu introvert. Tetapi kita jangan menyerah menilik bahwa kepribadian terbentuk pada usia 18 tahun tentu masih banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menekan sequele yang terjadi.
    1. Adalah tunjukkan rasa aman jadi kalo pendekatannya ya secara perlahan
    2. Ajak anak yang terdekat untuk bermain karena memang anak itu suka bermain
    3. Be their friend dengan mencoba menghibur dan men”encourage”
    Jadi pasti ada sequele psikologis tapi kita minimalkan dengan lingkungan yang baik karena lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan sifat dan kepribadian anak

  3. anak adalah anugerah, baginya tersimpan harapan dan rindu orang tua. dan menjadi penolong orang tuanya dengan doa dan tangisannya, dengan pengorbanan untuk dien, dengan hafalan al-qurannya. yang dipikirkan bukan hanya sebelum punya anak tapi juga sebelum menikah. pemahaman seperti ini tidak lain hanya akan menjerumuskan seseorang ke keadaan yang membujang dan menahan jumlah anak. padahal alloh swt telah menjanjikan, siapa yang menikah alloh swtyang akan mencukupinya. dan rosululloh saw menegaskan bahwa beliau saw bangga dengan banyaknya jumlah umat nya.
    Jadi kalau sudah ‘siap’, punya banyak anak pun ok

  4. Berita tentang AYU ( Liputan6.com, Pematang Siantar )

    Sebenarnya ayu itu memang sudah cacat sejak berumur 5 bulan tepatnya sewaktu terjadi konflik di Aceh, Padahal ibu kandungnya sendiri yang kurang ajar, meninggalkan ayu sendirian di tepi jalan. Sudah syukur ibu Suarni itu mau merawatnya. tapi apalah mau dikata… Pihak Berwajib telah termakan fitnah tetangganya sendiri yang memang telah lama konflik dengan ibu tiri si ayu itu. TETANGGAnyalah yang meletakkan si ayu didalam kotak. Ini sengaja saya posting, agar semua tau bahwa MASYARAKAT LEBIH PINTAR DARIPADA POLISI…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s