Tentang NAMRU-2

Kantor MER-C

MER-C DUKUNG PENUTUPAN NAMRU-2:

Arogansi Amerika pun Terjadi di Kantor MER-C

Dinilai merugikan kepentingan bangsa dan kemanusiaan, MER-C mendukung penghentian operasi Lembaga Riset Naval Medical Research Unit (NAMRU) 2. Selain melecehkan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia, NAMRU juga tidak lebih dari trik bisnis Amerika Serikat untuk mengeksploitasi sumber-sumber bisnis dunia di bidang kesehatan.

“Buktinya, selama beroperasi dari tahun 1975, Namru tidak transparan, akibatnya manfaat penelitian kesehatan mereka pun tak dirasakan masyarakat. Apalagi operasinya dibawah pengawasan Angkatan Laut Amerika. Disinyalir, Namru 2 melakukan kegiatan rahasia di tempat yang menjadi aset Departemen Kesehatan RI,” ujar salah satu Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, Sp. OT.

MER-C secara khusus mengadakan konferensi pers di kantornya Jl. Kramat Lontar, Jakarta Pusat. Dr. Joserizal didampingi Ketua An Nashr Institute yang juga Ketua Forum Umat Islam, Munarman, SH. Konperensi tersebut dirasa perlu, mengingat Pemerintah, dalam hal ini Menkes RI, telah bersikap tegas untuk mengakhiri operasi Namru di Indonesia. Bagi MER-C, sikap Pemerintah, atau siapapun, yang mengangkat harga diri bangsa dan menegakkan kebenaran universal, harus didukung.

Dijelaskan Jose, program Namru adalah percobaan vaksin malaria, demam berdarah, dan Hepatitis E, termasuk mengembangkan breeding colony nyamuk malaria dan demam berdarah. Namru juga mendirikan laboratorium lapangan di Jayapura, Papua untuk pengembangan nyamuk malaria.

Selama 30 tahun beroperasi di Indonesia, tak ada transparansi kinerja mereka. Namru bersikap tertutup. Bahkan, pejabat negara yang berwenang (Meskes) terkesan sulit mendapat informasi terkait kerja Namru. Munarman menjelaskan, saat mengunjungi kantor Namru yang terletak di Percetakan Negara Jakarta Pusat, Menkes sempat tertahan 15 menit di pintu gerbang, memang pada akhirnya boleh masuk. “Tapi Menkes hanya diantar untuk melihat-lihat gudang,” ujar Munarman. “Coba, apakah ini bukan pelecehan terhadap pejabat yang mewakili rakyat yang memiliki negara ini?”

Uniknya, selama konperensi pers di MER-C, ada kejadian kecil yang semakin menunjukkan arogansi Amerika. Saat konperensi berlangusng sekitar 15 menit, datang empat orang tamu tak diundang. Satu orang berkulit putih (bule), satu kulit hitam tinggi (seperti negro Amerika), dan dua orang perempuan pribumi berkulit coklat.

Tanpa permisi mereka langsung masuk dan nimbrung acara. Tentu saja ini mengherankan penerima tamu. Dengan iktikad baik, penerima tamu mempersilakan tamu tersebut untuk mengisi daftar tamu. Tapi mereka menggeleng. Dengan terkesan tanpa salah, mereka mengikuti acara konpers.

Selanjutnya, tanpa ijin panitia konpers, dua perempuan yang bersama mereka, membagikan-bagikan seberkas kertas ke para wartawan yang sedang asyik mendengarkan penjelasan Jose dan Munarman. Tingkah laku mereka tentu saja membuat gerah Munarman. Kebetulan mantan Ketua KontraS itu tahu, tamu-tamu tak diundang itu berasal dari kedutaaan Amerika Serikat. Tak ayal, menyadari ada yang tidak beres, Munarman langsung menyuruh mereka pergi. “Pergi kalian, out! out! siapa yang menyuruh kalian ke sini? Kami tidak mengundang kalian ke sini. Pergi!”

Munarman pun tak segan menuding dua perempuan yang ikut mereka sebagai pengkhianat bangsa.

Empat tamu langsung keluar. Wartawan yang tertarik kejadian tersebut, langsung mengikuti mereka. Di depan pintu Gedung MER-C mereka pun diwawancarai. Hampir saja Munarman mengusir kembali mereka ke luar areal Gedung MER-C, kalau tidak dicegah dr. Joserizal Jurnalis.” Biarkan saja,” ujarnya sembari meneruskan konperensi persnya. (ajm)

Download disini pernyataan resmi.

:::Maaf, Saya Cuma Forward dari “MABES”, semoga berguna:::

2 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    herbalis berkata,

    usirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr NAMRU2 dan lembaga semisalnya dari tanah kaum muslimin, juga para antek2……!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    sebel2222222222222222222222
    jangan pernah kerjasama ma org rakus, maruk, kafir, munafik, pelit, suka ngibulin, suka ngobok2 bangsa

  2. 2

    sibermedik berkata,

    @herbalis
    Sabar-sabar…justru sebagai muslim tuh harus bisa menahan amarah. Kita boleh marah saat agama kita dihina, tapi dalam kasus ini justru para cendekiawan dan ilmuwan muslim harus pandai-pandai berdiplomasi. Disinilah Izzatul muslimin dipertaruhkan.


RSS Komentar

Ungkapkan pendapat Anda