Arsip untuk November, 2007

Manajemen Klinik..gampang gampang Syusyah

Kebanyakan anak eFKa kalo masuk ke organisasi extra kampus pasti ngincernya Skill Medis..tapi gak mau kerja ngurus tuh organisasi..dasar penyakit (oknum) anak eFKA!!! “KALAU NGGAK MENGUNTUNGKAN NGAPAIN IKUT??”

Kenangan Klinik Bersama

kenangan klinik 2006-2007

Jadi inget pengalaman SiberMedik jadi Manager Operasional di sebuah NGO (Non Government Organization) Cab.Solo 2 tahun lalu bener-bener pengalaman tak terlupakan..bayangin aja, disaat teman-teman lain punya tujuan ikut organisasi kesehatan ekstra kampus justru sibermedik malah diberi amanah untuk mendirikan+manajemen sebuah klinik sosial kerjasama NGO yg SiberMedik ikutin dengan sebuah Bank….bingung mau seneng apa sedih…tapi banyak pengalaman yang dapat sibermedik ambil selama mengurus (coz skrg dah diurus penerus SiberMedik..maklum dah mantan).

  1. AMANAH..Yups setiap keputusan yang diambil harus sesuai dengan ”akad” yang pernah diucapkan, kalo gak sesuai berarti khianat dong???apalagi korupsi??sorry ya..nggak usum (Surabaya: Nggak Jaman)
  2. PROFESIONAL..Selain dalam pelaporan, profesionalitas dalam menghadapi karyawan harus dijaga..lha emang dilema kalau karyawan klinik(dokter+perawat) kita lebih senior dibanding manajemen (masih mahasiswa FK)..bahkan SiberMedik pernah menerima lamaran plus pernah juga memecat dokter..nggak percaya? Harus profesional dong!!! Status cuma di Kampus!! Lha koq Nyimut??
  3. ELEGAN….Dalam posisi Decision Maker, manajer nggak boleh gegabah..semua harus ditangani secara elegan..mulai perijinan, pelaporan, promosi, komunikasi, hingga pembayaran gaji karyawan..nggak boleh telat bayar gaji Rek!!
  4. TEAM WORK..Manage klinik tuh gak bisa One Man Show!! Harus bisa kerjasama, nggak mungkin lah semua bisa di handle sendiri..untuk semboyan: I Can Do It By My Self..nggak semuanya bisa dibegituin..sombong banget kalo gitu.

Kebetulan tadi siang SiberMedik diundang Rapat klinik..walau sekarang status “mantan” tapi ada rasa tanggung jawab untuk mengetahui perkembangan klinik, setelah meninggalkan jabatan sebagai Manager Operational 1 tahun yang lalu.

Komentar (17) »

Ringer Lactat 4 Medical Soul..DIPERPANJANG

Dear dokter,

SiberMedik mengucapkan Makasih bgt atas esai penglamannya, kami harap dokter2 berkenan mengajak rekan2 sejawat yang lain berpartisipasi mengirimkan pengalaman2 PTT mereka kepada kami. Kami sendiri tengah mengalami kesulita dalam hal jumlah artikel yg belum mencapai target sehingga kemungkinan produksi&pengiriman merchandise akan mundur sampai 2 bulan, maka dari itu kami mohon kerjasamanya untuk mengajak rekan2 sejawat yang lain berpartisipasi.

Terima kasih…

=W.wW.SiberMedik.WordPress.Com=

Dear all Doctor..Pengalaman merupakan guru yang paling berharga, dengan ini SiberMedik ingin mengajak para teman sejawat untuk berbagi pengalaman kepada para calon teman sejawat (mahasiswa kedokteran) lewat buku yang akan Sibermedik rilis insya Allah bulan Januari 2008 yang berjudul :

“Ringer Laktat untuk Calon Teman Sejawat:

Kapita Selekta Pengalaman PTT

indoeast

Buku ini akan berisi tentang kumpulan pengalaman tentang dokter-dokter yang telah melaksanakan PTT di luar daerah -terutama diluar Pulau Jawa-. Sibermedik memiliki harapan dengan terbitnya buku ini akan menggugah para Calon Rekan Sejawat (Calon Dokter,Red) untuk berpartisipasi melaksanakan PTT dalam rangka pengabdian terhadap masyarakat. karena seperti yang kita tahu, masih banyak daerah diluar Jawa yang belum tersentuh Pelayanan Kesehatan.

Pengalaman-pengalaman para dokter yang telah menunaikan tugas PTT diharapkan dapat menjadi wacana, motivator, sekaligus mutiara-mutiara hikmah dalam menjalani etos kerja di lapangan.Untuk itu, kami menantikan artikel kiriman dari rekan-rekan teman sejawat dengan syarat:

  1. Diketik dengan Times New Roman (Fonts 12), Spasi Single, max 3 Hal A4.
  2. Format File .doc (ms.word) atau .pdf (adobe acrobat).
  3. Disertai data diri : Nama, Tempat-Tgl Lahir, Alamat Rumah & Email, Asal FK, Masa Bakti PTT, No telepon yang bisa dihubungi.
  4. Artikel dikirim via email: sibermedik@yahoo.com ; paling lambat 20 Desember 2007.

 Atas partisipasi rekan-rekan sekalian dengan mengirimkan artikel ini, Sibermedik akan memberikan merchandise berupa CD MULTIMEDIA PHYSICAL EXAMINATION Ver 3.0 secara Gratis untuk artikel-artikel pilihan yang akan dimuat di buku “Ringer Laktat untuk Calon Teman Sejawat: Kapita Selekta Pengalaman PTT” ini.

phys

Terima Kasih Atas Kerjasama & Perhatiannya.

=SiberMedik=

Komentar (10) »

Akhirnya datang juga….

Ya beginilah Kamis 22 Nov 2007..

OSCE Psikiatri…dah hafal checklist:

Kesan Umum, kesadaran kulaitatif & kuantitatif, bentuk pikiran, isi pikiran (Waham), orientasi, daya ingat, konsentrasi, etc lah….

Eh…waktu masuk ngadepi simulasi pasien “edan” (cuma 3 kemungkinan Schizophrenia, Maniak, ato Depresif),,,tiba-tiba BLANK…HANG….!#$%^&*()

Lha gimana nggak? semua yang masuk nggak tahu skenario apa yg akan diterima…ada temen yang dapet Pasien waham jadi ULTRAMAN…Sibermedik malah dapet Waham kebesaran Superboy??…yang jadi grogi tuh pasiennya “menjiwai”..ya mungkin mereka dah pengalaman..(Maklum Residen Psikiatri yang jadi probandus)…

Jadi inget acara TV AKHIRNYA DATANG JUGA, lha wong waktu masuk ruang praktek kita nggak tahu apa yang akan terjadi?pasien kadang-kadang duduk diatas meja dokter…sembunyi dibawah kolong…Ya Allah ntar pasien yang bakal dihadapi emang kayak gini toh????

Ya udah..Laporan:

Pasien Sdr.W,18 th, datang karena penderita sering menunjukkan perilaku aneh. Penderita sering menganggap dirinya Superboy, bicara sendiri dan isi pembicaraan tidak berkaitan antara satu dengan yang lain.

Status mental didapatkan laki-laki sesuai umur, kesan umum rapi,rambut disisir, terawat, memakai baju kemeja dengan celana hijau diantar oleh Ibu beliau Ny.A. Perilaku hiperaktif, pembicaraan lancar dengan isi meloncat-loncat. Tilikan menyangkal kalau sakit. Daya konsentrasi sedang, daya ingat rendah. Mood dan Afek labil, kesadaran kuantitatif compos mentis, kualitatif berubah. Bentuk pikiran non realistik, isi pikiran thought of insertion, arus pikir flight of idea. Orientasi ruang dan waktu jelek.

Hiks…kayake Remidi deh…gara-gara grogi+pasiennya nggak waras dokternya nganti salah tingkah..(Maklum klo pasien non psikosis masih bisa diatur..)

Komentar (4) »

Surat-surat Cinta Sang Pahlawan

  • oranje hotel  “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai paara pahlawannya” (Bung Karno).

10 Nopember, kita selalu memperingatinya sebagai Hari Pahlawan.Tetapi kenyataannya nilai-nilai kepahlawanan kini mulai terkikis derasnya globalisasi. Hari Pahlawan hanya sekedar seremoni yang penuh dengan nostalgia yang meninabobokan, bukan menumbuhkan sikap patriot, herois, & ikhlas berjihad untuk membela kebenaran & keadilan.

Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki.(Q.S Al-Hajj 22:58)

Sedikit mengutip kisah seorang pejuang, kehidupan pribadinya sebagai seorang suami romantis yang mencintai istri, serta ayah yang penuh kasih sayang pada anak-anaknya. Bahkan dengan cara yang sederhana. Ikatan cinta, kekuatan cinta terkadang dalam batas tertentu atau banyak hal memang  mengubah perjalanan sejarah. Inilah yang mencoba beliau ungkapkan dalam surat-suratnya.

Semoga ini menjadi semangat untuk generasi muda Indonesia, mari sekilas kita cuplik…

Ayo Rek, di sruput wedang’e!!

Bung Tomo (Surabaya 3 Oktober 1920-Makkah, 7 Oktober 1981)

“Datanglah. Waktuku amat sempit. Ada yang ingin aku ceriterakan padamu” atau, “Aku rindu padamu tetapi tak punya waktu,. Bisa Jeng menemuiku?” (Surat Cinta Bung Tomo)

Romantis ‘nDak? itu surat kata belletjes -surat-surat kecil- yang selalu dikirim Bung Tomo saat di front pertempuran lewat Cak Ri(Anak buah Bung Tomo) kepada Sulistina (Kekasih Bung Tomo). Apalagi selain selembar surat selalu ada saja oleh-oleh seperti payung Tasikmalaya atau Batik solo yang ia bawa selepas pulang dari front.

Sebelumnya, Bung Tomo bertemu dengan kekasihnya ini saat terjadi pertempuran di Surabaya (1945), dimana saat itu Sulistiani (Kekasih Bung Tomo) tergabung dalam PMI.

 ”Durung maju perang wis ndelik. Yok opo se…!” (Belum maju perang kok sudah sembunyi, gimana sih!).

Hingga suatu saat beliau mengirimkan surat:

” Jeng Lies aku cinta padamu. nanti kalau perang sudah usai. Dan…Kita akan membuat Mahligai.” (Surat Cinta Bung Tomo)

“Tak terlalu tinggi cita-citaku. Impianku kita punya rumah diatas gunung. Jauuuh dari keramaian. Rumah yang sederhana seperti pondok. Hawanya bersih, sejuk & pemandangannya Indah. Kau tanam bunga-bunga dan kita menanam sayur sendiri. aku kumpulkan muda-mudi kudidik mereka menjadi patriot bangsa,” (Surat Cinta Bung Tomo)

Pernikahan pun diputuskan tanggal 19 Juni 1947 di Jl.Lowokwaru IV/2 Malang. Banyak kawan-kawan beliau dari BPRI dan PMI (Teman-teman istrinya) yang hadir, tetapi bukan berarti mudah menjadi istri Bung Tomo karena masih diburu-buru Belanda, mereka harus pindah ke Jogjakarta.

Untuk urusan dapur beliau memang jago memasak rawon, lodeh, sayur asem, sambel goreng taoco. Bahkan beliau sendiri yang mengajari istrinya memasak.

“Waktu kecil aku sering ikut ibu membantu orang yang punya hajat perkawinan. Mereka sering kali bilang, kalau perempuan yang bisa mengulek pasti pandai melayani suami di tempat tidur. Makanya kamu harus pandai memasak supaya aku betah di rumah” Ucap Bung Tomo kepada istrinya.

Ada satu bagian dimana Bung Tomo masuk penjara dikarenakan keberaniaanya mengkritik pemerintahan saat itu yang justru membuatnya memperdalam agama islam selama didalam bui.

“Waktu bebas, aku tidak mempunyai kesempatan membaca, nah sekarang kesempatan itu ada dan harus ku pergunakan. Tuhan memberi cobaan, tentu ada hikmahnya.”

Bung Tomo wafat di Arab Saudi saat menunaikan ibadah haji. Semua perjalanan beliau sungguh suatu kenangan yang indah. Boleh saja orang mengatakan bahwa Bung Karno adalah seorang yang romantis disamping sebagai pemimpin, tapi bagi Istri beliau Bung Tomo adalah Suami yang amat romantis. “You are a hero, a patriot, a great lover sampai hari akhirmu” tulis istri Bung Tomo di suratnya yang akhir.

—Fin—

Sumber: Tarbawi, Edisi Khusus “Keajaiban Surat Cinta: Kisah Para Pejuang Muslim…”.

Komentar (9) »

Dokter Juga Pahlawan (3): Dr.Soetomo Arek Suroboyo!

 

dr.soeTempoe Doeloe tidak ada satupun rakyat Soerabaia yang tidka kenal nama Dokter Soetomo. Mereka sering menyebutnya Pak Tom, begitu saja. Tidak ada yang berani mengatakannya dengan gaya cengengesan.

Bayangkan, ia dikenal sebagai dokter sukarela. Artinya, dipanggil tengah malam pun bersedia. Tidak dibayar pun juga tidak apa-apa. Dan itu semua ia lakukan setulus hati. Lha siapa yang tidak terharu demi melihat sikapnya yang demikian itu.

Siapa dr.Soetomo?

dr.soe kecilLahir di Desa Ngapeh, Nganjuk 30 Juli 1888. Ayah Sutomo, Raden Suwaji, adalah seorang priyayi pegawai pengreh yang maju dan modern. Beruntunglah Sutomo, karena dibesarkan di keluarga yang berkecukupan, terhormat dan sangat memanjakannya. Limpahan kasih sayang, tertuju pada Sutomo kecil, terutama dari sang kakek dan nenek. Kakek Sutomo bernama R Ng Singawijaya atau KH Abdurakhman. Nama tersebut sangat disegani dan ternama di wilayah Nganjuk. Hal inilah yang sangat berpengaruh pada perilaku dan sifat Sutomo. Manja, nakal, sewenang-wenang kepada kawannya, pun berkelakuan bak raja kecil.

Masuk STOVIA.

Selesai Sekolah Rendah Belanda, terjadi pertentangan antara ayah Sutomo dengan sang kakek. R Suwaji ingin Sutomo masuk STOVIA, sedangkan R Ng Singawijaya menginginkan Sutomo menjadi pangreh praja (Mungkin sekarang STPDN kali…).
Bagi Sutomo sendiri, pertentangan dua orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya itu sangat menyita pikiran. Hati kecilnya sebenarnya lebih memilih kedokteran (STOVIA). Alasannya, dirinya tidak suka melihat ayahnya yang pangreh praja disuruh-suruh Belanda…Lha kok nyimut dadi jongos’e Londo? 
Namun disisi lain, Sutomo tidak ingin menyakiti hati sang kakek. Akhirnya melalui suatu perenungan panjang, secara tegas Sutomo menolak jabatan sebagai pangreh praja. Pilihannya jatuh pada STOVIA. Keputusan berani di usianya yang baru menginjak 15 tahun itu, membawa langkah kakinya ke Batavia. 10 Januari 1903, Sutomo resmi menjadi siswa STOVIA.

Cuplikan Sejarah STOVIA:

Asal muasal STOVIA berdiri dikarenakan pada tahun 1847 dr.W.Bosch (Ka.DinKes Batavia) mendapat laporan berjangkitnya berbagai penyakit berbahaya di Banyumas. 9 Nopember 1847, pemerintah Hindia Belanda memanggil pemuda2 untuk dididik menjadi juru kesehatan dengan syarat:

1. Sehat & Cerdas.

2. Bisa membaca, menulis Jawa & Melayu.

3. Dari lingkungan keluarga baik-baik.

 

Dalam kursus diajarkan 15 mata pelajaran:

1. Dasar-dasar bahasa Belanda.

2. Berhitung.

3. Ilmu Bumi (Eropa & Indonesia).

4. Ilmu Ukur.

5. Ilmu Kimia Anorganik.

6. Ilmu Falak.

7. Ilmu Alam.

8. Ilmu Pesawat (Alat-alat Kesehatan).

9. Ilmu Tanah.

10. Ilmu Tumbuh-tumbuhan.

11. Ilmu hewan.

12. Ilmu Anatomi Tubuh.

13. Asas-asas Patologi.

14. Ilmu Kebidanan.

15. Ilmu Bedah.

Tamat sebagai Indische Arts (nama lain Dokter Jawa), ia lantas mengabdikan dirinya bagi kepentingan di masyarakat.

Pada tahun 1917, ia menikah dengan seorang Zuster Belanda, Everdina Johanna Bruring (Bukan Suster Ngesot..apalagi suster gepeng..dibujuk’i pilem gelem’ae!!).Di mata Sutomo, sang isteri adalah wanita pujaan. Tugas harian seperti memasak, mencuci dan sebagainya selalu dilakukan dengan kerelaan. Cukup kontradiktif, mengingat bumiputera adalah bangsa tertindas. Bruuring bahkan tak punya waktu senggang di hari libur atau pun di hari Minggu, mengingat diwaktu-waktu seperti itu, rekan-rekan seperjuangan Sutomo selalu mengadakan rapat di rumah mereka.Pengabdian yang tulus inilah yang membuat Sutomo makin cinta pada Bruuring. Sampai akhir hayatnya, hanya Bruuring lah satu-satunya wanita yang pernah singgah di hati Sutomo. Sejak Bruuring wafat pada 17 Februari 1934 pukul 09.10 menit, tak pernah terniat dihati Sutomo untuk menikah lagi.

Dari tahun 19-1923 bersama istrinya ia tinggal di Negeri Belanda untuk melanjutkkan sekolah & niasmemperoleh gelar Arts, dokter beneran lulusan Universitas. Sepulang dari Belanda ia memutuskan untuk menetap di Soerabaia, & mengajar di NIAS (Nederland Indische Artsen School) yang kelak akan menjadi FK UNAIR.

Di Soearabaia Pak Tom Menetap hingga akhir hayatnya. Wafat 30 Mei 1938, seluruh penduduk Kota Soerabaia tumplek blek di Jl.Bubutan, maka jalan itupun berubah jadi lautan manusia. Suara dzikir berdengung dari lisan ribuan pelayat mengantar kepergian putra bangsa terbaik.

Tentang sepak terjang beliau di Boedi Oetomo, bisa dibaca diartikel dokter-dokter pengukir sejarah bangsa.

Soerabaia Tempo Doeloe Sumber:

  •  - Pd.Persi.
  •  - Soerabaia Tempo Doeloe (Buku 1, “Pak Tom”), Dukut Imam Widodo.

Komentar (7) »