SiberMedik sedih banget ngelihat mahasiswa2 sekarang lebih “fans” ke Che Guevara ketimbang pahlawan-pahlawan nasional…hiks..hiks..
Seharusnya kita bangga terhadap negeri ini yang telah disuburkan oleh darah para pahlawan yang berkorban smpai mati mempertahankan negeri ini (sedih lagi banyak BUMN yg di-privatisasi..sama aja dijajah!!).
Profesi dokter-pun tidak kalah memberi sumbangsih berdirinya bangsa ini. Tercatat dalam sejarah beberapa dokter yang membaktikan diri menolong rakyat yang tertindas & tidak takut mati demi membela yang benar.
dr. Cipto Mangunkusumo, Lahir: Pecangakan, Ambarawa, tahun 1886
Meninggal:Jakarta, 8 Maret 1943 Dimakamkan: Watu Ceper, Ambarawa
Pendidikan: STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta
Pengalaman Pekerjaan:Dokter pemerintah di Demak & Praktik dokter di Solo
- Berhasil membasmi wabah pes (1910)
- Mengembangkan “Kartini Club”
Kegiatan Politik:
- Menulis di harian De Express
- Mendirikan Indische Partij (1912)
- Membentuk Komite Bumiputera
- Volksraad
Pengalaman Perjuangan:
- Dibuang ke negeri Belanda (1913)
- Tahanan kota di Bandung
- Dibuang ke Banda Neira (1927)
- Dibuang ke Ujungpandang
- Dari Ujungpandang dipindahkan ke Sukabumi, Jawa Barat
- Dari Sukabumi dipindahkan ke Jakarta
Tanda Penghargaan:
- Bintang Orde van Oranye Nassau dari Pemerintah Belanda (dikembalikannya)
Tanda Penghormatan:
- Dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional
- Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta.
Dr. Soetomo (lahir di Ngepeh, Nganjuk, 30 Juli 1888, wafat Surabaya, 30 Mei 1938) adalah tokoh pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan yang pertama di Indonesia.
Pada tahun 1903, Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Jakarta. Bersama kawan-kawan dari STOVIA inilah Soetomo mendirikan perkumpulan yang bernama Budi Utomo, pada tahun 1908. Setelah lulus pada tahun 1911, ia bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. Pada tahun 1917, Soetomo menikah dengan seorang perawat Belanda. Pada tahun 1919 sampai 1923, Soetomo melanjutkan studi kedokteran di Belanda. Pada tahun 1924, Soetomo mendirikan Indonesian Study Club di Surabaya.
Tanggal 30 Mei 1938, bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sutomo wafat setelah berbuat banyak bagi bangsanya. Untuk mengenang jasanya, Sutomo dimakamkan di Gedung Nasional Bubutan, Surabaya. Dan pada tahun 1961, Sutomo dikukuhkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.
Wahidin Sudirohusodo, dr. (Melati, Yogyakarta, 7 Januari 1852–26 Mei 1917) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya selalu dikaitkan dengan Budi Utomo karena walaupun ia bukan pendiri organisasi kebangkitan nasional itu, dialah penggagas berdirinya organisasi yang didirikan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen Jakarta itu.
Dokter lulusan STOVIA ini sangat senang bergaul dengan rakyat biasa. Sehinggga tak heran bila ia mengetahui banyak penderitaan rakyat. Ia juga sangat menyadari bagaimana terbelakang dan.tertindasnya rakyat akibat penjajahan Belanda. Menurutnya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas. Untuk itu, rakyat harus diberi kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah. Sebagai dokter, ia sering mengobati rakyat tanpa memungut bayaran.
Dua pokok yang menjadi perjuangannya ialah memperluas pendidikan dan pengajaran dan memupuk kesadaran kebangsaan. Beliau sering berkeliling kota-kota besar di Jawa mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat sambil memberikan gagasannya tentang “dana pelajar” untuk membantu pemuda-pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Akan tetapi gagasan ini kurang mendapat tanggapan.
Gagasan itu juga dikemukakannya pada para pelajar STOVIA di Jakarta tentang perlunya mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa. Gagasan ini ternyata di sambut baik oleh para pelajar STOVIA tersebut. Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908, lahirlah Budi Utomo.
Sebenarnya SiberMedik punya database & ingin sekali menulis biografi dokter-dokter pengukir sejarah bangsa ini, tetapi ya step-by step lah…ada dosisnya, daripada ntar resistn he..he..ayo SEMANGAT!!!! M.E.R.D.E.K.A!!!!
notes: kita jangan cuma jadi dokter (& calon dokter) yang cuma hebat dibelakang meja!!! Lihat realita kehidupan!! Jadi dokter yang berkemampuan lebih + hati nurani…








Astri berkata,
Agustus 8, 2007 @ 9:00 pm
Che Guevara kan dokter juga
juga seorang pejuang di negaranya
ya bolehlah si Che Guevara buat tambah2an. Trus salah satu pemimpin palestina yang dibunuh dulu siapa ya namanya? Rantissi deh.. kan dokter anak. Ya mereka juga patut dikagumi karena mereka gak praktek aja, malah setor nyawa juga.
sadeli berkata,
Agustus 15, 2009 @ 9:00 pm
boleh-boleh saja mengagumi pejuang yang lahir di luar sana…tapi alangkah baiknya lebih tau para pejuang yang lahir di negara sendiri…saya adalah salah satu pemuda penerus bangsa yang tidak begitu memahami dan tau betul sejarah para pejuang negeri ini…tapi saya harap para pemuda penerus bangsa ini lebih mengetahui sejarah para pahlawan kita yang telah membawa bangsa kita merdeka sampai sekarang wlo pada kenyataannya bangsa kita masih dijajah oleh bangsa asing…bukan menggunakan senjata tapi dijajah menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi…timbalah ilmu wlo sampai negeri cina demi kemajuan bangsa dan negara kita yang tercinta ini…semangatlah para pemuda seperjuangan!!!!
sibermedik berkata,
Agustus 9, 2007 @ 9:53 am
@Astri
ya che guevara kan sosialis???
lgpula pahlawan2 kita gak kalah hebat
brighter19 berkata,
Agustus 13, 2007 @ 5:18 pm
Generasi IT Indonesia akan datang …
Wait us … !
dokterearekcilik berkata,
Agustus 15, 2007 @ 5:15 pm
Socrates bekas pemain bola brazil juga dokter, patch adam juga dokter, marga T juga dokter jadi penulis novel……. astri juga dokter tapi ngurus wisata kuliner , cak moki juga dokter online…… yang dua terakhir apa ada hubungannya yaaa????
sibermedik berkata,
Agustus 16, 2007 @ 1:02 pm
socrate kan dokter gigi kalo g salah??
ayuk berkata,
Oktober 4, 2007 @ 12:48 pm
anakku nama nya jg ada guevara nya,soale suamiku ngefans bgtz ama doi..”halah” heeheh..
dwi berkata,
Oktober 6, 2007 @ 1:27 am
Ada lagi
Dr. Dwi susanti
Hehehe
Gonna be si
agoes dariyo, psi berkata,
November 2, 2007 @ 5:22 pm
Semua dokter kita hebat. kita bangga dengan mereka. tinggal kita meniru dan meneruskan perjuangan mereka, agar kita jadi negara maju dan berkembang di dunia ini.
klikharry berkata,
November 17, 2007 @ 10:52 am
hmmm…namaku mana?
sibermedik berkata,
November 17, 2007 @ 1:17 pm
@Klik Harry
syarat jadi pahlawan….
1. diakui orang banyak karena jasanya tanpa pamrih.
2. SUDAH MENINGGAL (Kec.Guru..Pahlawan tanpa tanda jasa)..
nah sekarang tau kenpa g ada namamu Har
Bose Agustinus Simanjuntak berkata,
Januari 15, 2008 @ 7:11 pm
Dokter harus sangat di hargai karena dia lah yang membantu kita dalam menyembuhkan segala penyakit . Dan Dokter yang berada di pedalaman juga harus di sejahterakan .
iboenk hk ugm berkata,
Februari 9, 2008 @ 7:32 pm
gw setuju….. pahlawn kite juga ga kalah keren coy.yang penting mahasiswa harus bisa mencontoh perjuangan para pahlawan kita begitupun guevara….ga da salahnya ko meniru perjuangan mereka.tp inget tiru yang baik2 aje.keeeeeep struggle!!!!!!!!!!!! kapan nih kawan2 grakan mahasiswa se RI bersatu???
iboenk hk ugm berkata,
Februari 9, 2008 @ 7:35 pm
eia soal dokter!!!!! buat kawan2 yang punya cita2 jd dokter kalo kemudian ga mw nolong kaum papa yang sakit bahkan SKARAAATT!!sebaiknya kau urungkan niatmu jadi dokter!!!PAHAAAM????
sibermedik berkata,
Februari 9, 2008 @ 9:01 pm
@iboenk.
situ juga harus INTROSPEKSI! perasaan kerjaannya pengacara selama ini nuntuti dokter dengan tuduhan malpraktek melulu..dikira jadi dokter itu gampang apa?jangan samakan dengan FH..kami benar2 dididik menghadapi kasus nyawa orang..anda mungkin hanya menghadapi kasus yg hanya untuk dimenangkan..benar salah yang penting menang,ngaku deh!
Oh iya,kami mhswa FK gak mau sembarangan demo hnya untuk masalah2 politik yang nggak kelas..kami lebih menyukai jadi agen perubahan yang elegan,strategis,dan efektif daripada harus berdemo membuang energi dengan hasil tidak signifikan.
yessi berkata,
Mei 10, 2008 @ 5:55 am
makasi ya tulisannya, mudah2an nambah lagi daftar dokter – dokter yang terlibat dalam pergerakan bangsa.
mau menengahi saja…..judul dari tulisan ini kan: dokter -dokter pengukir sejarah bangsa, jadi mungkin penulis disini lebih mengutamakan dokter2 dari Indonesia begitu.mugkin lebih tepatnya judulnya di edit aj x ya?
masalahnya ini artikel menurut saya baik sekali untuk menambah khasanah dalam pembelajaran sejarah dokter ataupun sejarah bangsa……jangan dijadikan perdebatan apalagi menghina profesi kami. mungkin mas harry dulunya kepingin jadi dokter….saya doakan anak ma saja yang jadi dokter ya….
buat penulis GOOD JOB, banyakin lagi ya tulisannya ^_^
M. Yusuf berkata,
Mei 21, 2008 @ 9:57 am
Merdeka!!!…
patricia kondo berkata,
Juni 14, 2008 @ 10:11 am
INDONESIA SEMANGAT……………….
Aku Patricia aku mendoakan PARA PAHLAWAN INDONESIA
Saat upacara kita mengheningkan cipta maksudnya mendoakan PARA PAHLAWAN KITA harus menghormati Bendera MERAH PUTIH di INDONESIA….
OK……………….. BYE-BYE
natasya kondo berkata,
Juni 14, 2008 @ 10:17 am
Menurut aku kalau PAHLAWAN gak ada kita juga gak ada di INDONESIA.Makanya kita harus menghormati dan berterimakasih…OK…………..
M.E.R.D.E.K.A!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
cewekislam berkata,
Juli 13, 2008 @ 7:13 am
iya…saya setuju. jadi dokter itu harus punya empati terhadap permasalahan umat… tidak hanya masalah klinisi pasien tapi juga berjuang tuk kepentingan umat.. seperti bu menkes misalnya atau para pahlawan -pahlawan indonesia terdahulu.
jadi saya kurang setuju jika mahasiswa FK tidak mau turun ke jalan dengan alasan “politik kurang elegan”.
oya perkenalkan saya mahasiswa FK dari medan.
wassalam.
Dadang Heru Dini berkata,
Juli 27, 2008 @ 2:27 pm
cieeeeeeee pahlawan kyu
bidadari byule kyu
Dadang Heru Dini berkata,
Juli 27, 2008 @ 2:33 pm
okheeeeeeeeeeee dehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
viviriaanggraeni berkata,
Juli 27, 2008 @ 3:56 pm
JaMaN SkrNg nK mUdA sEnEnG bRiTnEy Dr PaDa PaHLaWaN kITa
viviriaanggraeni berkata,
Juli 27, 2008 @ 3:59 pm
cUmA Nk spEnMaBoJOnEgOro Yg MaSiH MeNGhArGaI pAhLaWaN kItA.mErDeKa,MeRdEkA
agar pintar harus bertaya berkata,
September 8, 2008 @ 12:48 pm
apkah semua jawaban yang ada di atas itu adalah pahlawan yang berasal dari betawi
wahyudi kuncoro berkata,
Oktober 19, 2008 @ 3:02 pm
Menempuh pendidikan dokter sekarang sangat mahal berbeda sekali sewaktu 1995-2006 aku menjaklani pendidikan di UNAIR, biaya murah tdk berbeda dengan pendidikn sarjana yang lain, sehingga sekarang jika praktek dengan memasang honor premium pun saya tidak merasa rugi,bahkan saya sangat bahagia bisa berbuat banyak utk masyarakat.
Tetapi yang terjadi sekarang…adik kelas angkatan 2000_an biaya sekolah sangat tinggi sehingga setelah selesai sekolah akan berusaha mengembalikan modal sekolah,..apalagi yang oreintasi menjadi dokter adalah untuk menjadi kaya akan mengalami stress, bingung…menyalahkan situasi, sekolah dokter sudah susah,mahal dan lama ternyata di dunia kerja mereka justru kurang dihargai secara finansial. Di dunia kerja dihargai jauh lebih rendah daripada engineering, belum lagi yang belum siap dihadang kompetensi yang digagas pemerintah….
sabarlah sejawat adik-kelas, tetaplah memiliki idealisme humanis seperti tokoh-tokoh yang disebut diatas.
Che Guevara gak salah juga dijadikan figur..OK juga kok.
Prof. jangan lupa Dr. OEN sungguh menjadi idola saya…diposting dong!!! trims.
wassalam
wahyudi kuncoro berkata,
Oktober 19, 2008 @ 3:13 pm
Oen Boen Ing
Oen Boen Ing (lahir 3 Maret 1903, meninggal di Solo, 30 Oktober 1982) adalah seorang dokter terkenal yang sosiawan di kota Solo. Ia juga dikenal sebagai Kanjeng Raden Mas Tumenggung Oen Boen Ing Darmohoesodo.
Latar belakang
Oen Boen Ing dilahirkan dalam sebuah keluarga pedagang tembakau yang kaya-raya, cucu seorang sinshe Tionghoa yang juga suka menolong banyak orang. Karena pengaruh kakeknya itulah, ia kemudian dikenal sebagai dokter yang banyak membantu pasiennya, khususnya mereka yang tidak mampu membayar biaya dan ongkos membeli obat-obatan.
Karena itulah, sejak lulus sekolah menengah, Boen Ing sudah ingin mempelajari ilmu kedokteran Barat dan menjadi dokter. Namun keinginan ini ditentang keras oleh keluarganya, karena mereka tidak mau ia menjadi kaya dari penderitaan orang yang sakit. Meskipun demikian, ia tetap bertekad mewujudkan cita-citanya untuk menjadi dokter. Ia pun mendaftarkan diri di School tot Opleiding van Inlandsche Arsten (STOVIA) di Batavia, dan lulus pada 193
Mulai mengabdi
Nama Oen Boen Ing tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Rumah Sakit Panti Kosala yang dimulai sebagai sebuah poliklinik kecil yang bernama Tsi Sheng Yuan atau Jisheng Yuan pada 29 Januari 1933, di sebuah paviliun sederhana di Jl. Mesen 106, Solo. Nama poliklinik itu berarti Lembaga Penolong Kehidupan. Poliklinik ini didirikan oleh delapan orang pemuda Tionghoa yang tergabung dalam Hua Chiao Tsing Nien Hui (disingkat HCTNH), yang artinya Perhimpunan Pemuda Tionghoa. Mereka itu adalah Jap Kioe Ong, Tan Kiong Djien, The Tjhioe Tik, Sie Ngo Siang, Sie Boen Tik, Gan Kok Sien, Tan Tiauw An, dan Jap Tiang Liem.
Pada tahun 1935 Dr. Oen Boen Ing mulai terlibat dalam pelayanan klinik tersebut dan kemudian menjadi pemprakarsa berdirinya Yayasan Kesehatan Tsi Sheng Yuan, yang kemudian membentuk RS Panti Kosala. Hal ini terjadi sekitar tahun 1951, ketika Poliklinik Tsi Sheng Yuan dilepaskan dari HCTNH. Dr. Oen Boen Ing menganjurkan agar Tsi Sheng Yuan menjadi sebuah yayasan untuk menampung kegiatan poliklinik.
Rumah sakit yang didirikan oleh Yayasan Tsi Sheng Yuan ini biasa disebut sebagai Rumah Sakit Kandang Sapi, karena pada 1954 rumah sakit ini dipindahkan ke daerah Kandang Sapi/Mojosongo (sampai sekarang) dan menjadi rumah sakit lengkap. Pada masa Orde Baru, nama rumah sakit ini diubah menjadi RS Panti Kosala.
Ikut berrjuang
Sampai tahun 1942, poliklinik Tsi Sheng Yuan banyak membantu Chineesche Burger Organisatie (CBO) dan semasa pendudukan Jepang dikelola oleh Kakyo Sokai (Gabungan Organisasi-organisasi Tionghoa). Ketika perang kemerdekaan datang, poliklinik berubah fungsi menjadi rumah sakit darurat, menampung para pejuang dan pengungsi.
Menurut kesaksian Soelarso, Ketua Paguyuban Rumpun Eks Tentara Pelajar Detasemen II Brigade XVII, “…tanpa menghiraukan tembakan Belanda, Dr Oen keluar masuk wilayah TNI untuk mengobati para prajurit…”
Angka tiga punya makna penting
Sebagai dokter, Oen Boen Ing terkenal tidak membeda-bedakan pasiennya, apapun juga kelompok etnis, suku, agama, dan kelas sosialnya. Bahkan pasien dibiarkannya mengisi ataupun tidak mengisi kotak uang yang terletak di ruang praktiknya secara suka rela. “Tugas seorang dokter adalah menolong,” demikian semboyan kehidupan dan pelayanan Dr. Oen.
Selain itu, Dr. Oen selalu membuka praktiknya sejak pk. 3.00 dini hari. Konon ini dihubungkan dengan hari kelahirannya, 3 Maret 1903. “Maka semua karya saya sebaiknya dimulai dengan angka 3,” begitu katanya. Angka tiga memang menjadi ciri kehidupan Dr. Oen Boen Ing. Nomor telepon di rumahnya 3333. Bangunan pertama di Rumah Sakit Kandang Sapi yang didirikannya, dinamai Triganda, dan diresmikan pada 3 Maret 1963.
Ketika Dr. Oen meninggal dunia pada 1982, rakyat banyak sungguh merasakan kehilangan yang besar. Hal ini tampak dari kehadiran ribuan rakyat kecil kepadanya yang berdiri di tepi jalan untuk memberikan penghormatan mereka yang terakhir kepada orang yang telah berjasa memberikan kehidupan yang lebih sehat kepada mereka di tengah-tengah keberadaan mereka yang serba kekurangan.
Penghargaan
Karena jasa-jasanya dan pengabdiannya yang tanpa pamrih kepada masyarakat, Dr. Oen Boen Ing mendapatkan penghargaan Satya Lencana Bhakti Sosial dari pemerintah Republik Indonesia pada 30 Oktober 1979. Beliau juga dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Sri Mangkunegoro VIII Solo, dengan nama Kanjeng Raden Toemenggoeng Oen Boen Ing Darmohoesodo. Pada 24 Januari 1993 Sri Mangkunegoro IX menaikkan gelarnya dari Kanjeng Raden Toemenggoeng menjadi Kanjeng Raden Mas Toemenggoeng Hario Oen Boen Ing Darmohoesodo.
dari Wikipedia, wassalam
Aditya berkata,
November 4, 2008 @ 6:03 pm
ass. bagus2 karangan pahlawannya semngat terus yaaaaaaaaaa
Buddy Utoyo berkata,
Desember 21, 2008 @ 8:26 am
Tiga tokoh dokter yang ditampilkan SiberMedik hanya sebagian kecil, banyak dokter-dokter “Jawa” yang dengan tulus ikhlas memberikan ilmu, karya bahkan jiwa raganya untuk Kebangkitan Bangsa nya pada era Kebangkitan Bangsa thn 1908 sampai era Perjuangan Kemerdekaan thn 1945. (lihat Dokter untuk Bangsa dari IDI 2008) Demi kecintaannya pada masyarakatnya, rakyatnya dan bangsanya telah banyak dokter yang terbunuh, dibunuh, dipancung oleh para penjajah. Hal ini karena mereka sangat mencintai rakyat Indonesia melebihi cinta pada dirinya sendiri. Mari kita introspeksi hai para dokter yang lahir di zaman Kemerdekaan setelah 100 tahun hari Kebangkitan Nasional, apakah saudara2 mencintai rakyatmu dan saudara2mu yang menderita yg tampak didepan mata kamu? Jangan biaya mahal untuk pendidikan dokter menjadi alasan membekukan nurani mu untuk mencintai bangsa ini. Bangsa mu menunggu ketulusan dan keihlasan kalian semua seperti para Dokter “Jawa” 100 tahun yang lalu. JADILAH DOKTER UNTUK BANGSA
yoan berkata,
Februari 19, 2009 @ 6:20 pm
che guevara bukan hanya sekedar tambah-tambah
Mau dia sosialis apapun tapi bagaiman dia memandang manusia itu yg harus diberi penghargaan tinggi,hari gini dokter mana yg mau meletakan status sosial ‘dokter’ yg tinggi itu untuk melakukan revolusi
Nyatanya bolivia maupun kuba juga kaya sekarang
Mulder berkata,
Maret 4, 2009 @ 7:43 pm
:p
elok berkata,
Mei 22, 2009 @ 1:04 pm
saluttttttttttttttt……………………
jd generasi penerus di bidang kesehatan ksusnya kedokteran lebih di kenal oleh
anak cucu kita….
sejarahnya lebih penting Brooo……..!!!!
tita abc berkata,
Juli 22, 2009 @ 9:48 pm
dr soetomonya mana ?
tita abc berkata,
Juli 22, 2009 @ 9:50 pm
dr soetomo nya mana ? tapi lumayan , nambah ilmu . hhe .
-thanks , tita abc-
sibermedik berkata,
Juli 25, 2009 @ 10:05 pm
@tita
http://sibermedik.wordpress.com/2007/11/10/dokter-juga-pahlawan-3-drsoetomo-arek-suroboyo/
diani yusefa ardi berkata,
Oktober 12, 2009 @ 6:00 pm
kEreeeeeeeeeeen
baaaaaaannnnnggggeeeet
Diana Adinda berkata,
Oktober 28, 2009 @ 5:04 pm
thx uda bantu peer ade ku
Firas Bara Abiyan Ruhiyat berkata,
November 5, 2009 @ 8:04 pm
bisa lengkapan lagi gk???